Posted in Uncategorized

Merasa Cukup

Haduh kayaknya aku sebelumnya pernah  bahas ini juga deh, tapi kayaknya ‘cukup’ itu memang rasa yang sulit dicapai πŸ™ˆ

Memangnya gampang merasa cukup punya baju di lemari tanpa beli yang baru?

Memang bisa merasa cukup dengan sepatu hitam yang sudah kita punya 2 di rumah?

Memang mau makan di resto siap saji ketika ada uang lebih bisa makan di restoran mahal?

πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ

Aku sendiri suliiittttt rasanya mengendalikan hal itu. Tapi selama tidak merugikan orang lain, ya itu jadi tanggung jawab kita sendiri kan? Paling hanya uang tabungan yang habis. 

Tapi kalau yang namanya sudah memakai uang orang lain, menggunakan uang yang semestinya bukan haknya, seperti memakai uang arisan atau menyuruh suaminya korupsi di perusahaan itu sudah gak bisa dibiarkan.

Itu penyakit.

Penyakit yang harus kita sendiri dengan kesadaran penuh untuk bisa menahannya.

Sulit banget lah pasti rasanya liat temen2 liburan kok gue nggak. Lihat temen2 makan enak kok gue nggak. Lihat temen beli tas baru kok tas gue udah buluk.

Tapi emang kenapa?

Memangnya dengan kita gak beli tas baru, gak liburan, gak makan mahal kita jadi gak punya teman? Kalo iya ya berarti lingkungan pertemanan kita gak sehat. Boleh diganti aja nggak?

Kita semestinya bisa merasa content dengan apa yang kita jalani dan hidupi. Gak usah terlalu pusing orang mau berfikir apa. Kita mau jadi malaikat pun, pasti ada aja yang nggak suka.

Jadi ya udah. Merasa cukup aja lah dengan kehidupan kita. Kalau gak ada gak usah dipaksa ada. Usaha boleh, asal gak merugikan orang lain.

Mencoba menahan diri tapi dengan uang sendiri jauh lebih berkah kok dibanding gaya2an tapi gak halal pakai uang orang lain. Pembuktian yang paling hebat ya pembuktian ke diri kita sendiri. Bisa nggak kita merasa bahagia dengan apa adanya kita?

Kukira begitu.

Posted in movie, Parenting

Wonderful Life Amalia Prabowo. Film vs Novel.

[[Spoiler alert]]

Beberapa waktu lalu pertama kali liat trailer itu dari sebuah grup whatsapp ibu2.. Dengan isu sesensitif itu, cuplikan film tadi mudah sekali dapat perhatian sehingga beredar dari satu grup ke grup lainnya. Ada yang menangis atau merasa terkoneksi, jleb jleb jleb. Buatku, rasanya biasa saja. Tapi aku tau itu film bagus. Terasa sekali bahwa itu merupakan salah satu film Indonesia yang wajib aku tonton. Tentang anak disleksia, pikirku.

Hari pertama filmnya keluar di bioskop, aku langsung ajak mas Anvid dan Anelka nonton. Sejak awal nonton, aku stresss πŸ˜‚ πŸ˜‚πŸ˜‚

“Hah ibunya kenapa marah2 gitu sih?”
“Ibunya kok jutek amat sih?”
“Kok anaknya gambar2 aja marah?”
“Ini ibu kenapa sih? Ini mah ibunya yang sakit…”

Sssssstttttt…. Mas Anvid protes.

Sori, tapi di film itu aku gak bisa liat perjalanan karakter Uminya kenapa jadi orang yang jutek banget dan mengapa karakter Umi tidak menyenangkan begitu.

Apalagi untuk jabatan setinggi itu masa masih tinggal bersama orangtua yang jelas2 kayaknya memiliki hubungan yang buruk. Orangtua yang kayaknya nyebelin dan otoriter masa sih ibu bos tahan?

Ibu bos yang karakternya sepertinya keras dan ambisius, biasanya gak tinggal bersama orangtua. Biasanya sih..

Adegan demi adegan berlalu, aku bener2 gak bisa relate dan gak ngerasa masuk akal. Ini kejadian tahun berapa sih? Sekarang kan 2016 emang masih aja kecerdasan anak hanya diukur dalam bidang akademis?

Emang kenapa kalo anaknya suka gambar? Dia gak tau bakat anak beda2?
Emang dia gak bisa cari tau atau dateng ke ayah edi gitu misalnya?
Whaaattt ke orang pinter? Ke dukun? Dukun cabul?

Masuk akal nggak sih, seorang perempuan metropolitan, menduduki posisi tertinggi di suatu perusahaan advertising, udah pasti pinter banget. Masa orang sepintar itu percaya dukun, sinshei, orang pinter? Ironis sekali.

Ada adegan di mana mereka makan tapi tidak bayar lalu kabur dan senang sekali ketika berhasil lolos. Ya meskipun akhirnya mereka kirim uang banyak sih ke warteg itu di kemudian hari, tapi adegan itu sempat mendapat protes dari Anelka.

“Kok mereka gak bayar?”

“Kok kabur?”

“Kok gak bayar seneng sih?”

Kemudian tiba di akhir cerita. Bukan surprise atau hal baru yang sulit ditebak. Dan pelajaran yang dapat dipetik juga bukan hal baru lagi. Memang bukankah itu hal yang sering kali dikampanyekan oleh penggiat atau pemerhati anak beberapa tahun terakhir? Bahwa tiap anak memang dilahirkan spesial dan biarlah mereka berkembang sesuai bakatnya sendiri. Sangat tidak asing.

Namun dibalik itu semua, aku penasaran sekali dengan tokoh mbak Amalia. Apa memang seperti digambarkan di film? Perempuan stres, ‘sakit’, jutek serta frustrasi sampai suami dan orang sekitarnya pergi meninggalkan dia karena ia begitu tidak menyenangkan. Masa sih?

Lalu Aqil. Apa iya dia anak yang menyebalkan seperti itu? Tidak bisa bekerjasama dengan baik bersama ibunya.. Berdiri di perahu ringkih yang oleng sekan tidak perduli, keluar dari mobil seenaknya padahal sudah berjanji untuk tinggal, dll jujur saja saya tidak merasa simpatik dengan Aqil di film.

Mengenai disleksia, tidak banyak dibahas. Tidak bisa paham kerepotan yang mereka dialami. Seperti apa, bagaimana, apa salahnya?

Aku tau itu semua hanya film, yang semua hal bisa dengan mudah terjadi di dalamnya. Tapi entah kenapa, banyak hal di film itu yang bertentangan dengan logikaku. Tahun 2016, seorang ceo perempuan handal dari dunia periklanan nyari pengobatan disleksia ke dukun dan orang pinter, oh come on. Gak logis sama sekali menurut aku πŸ™ˆ

Seharian mikirin filmnya sambil baca review2 dari orang2 yang sudah lebih dulu diundang premiernya.. Browsing tentang mbak Amalia sampai akhirnya, hari itu juga aku ke Gramedia untuk beli bukunya.

Surprise surprise, i looveeee the book!

Beda banget sih menurutku sama di film. Dari buku lebih jelas semuanya. Dan bapak, bapak tidak terlihat seperti orang tua angkuh yang menengok saja tidak bisa seperti di film πŸ™ˆ Kupikir si bapak stroke. Lalu suudzonku sirna ketika tau mereka bercerai bukan karena mbak Amalia pemarah lantas banyak yang tidak tahan seperti dugaanku, melainkan karena permasalahan agama. Dari buku itu juga aku tahu bahwa menggambar adalah salah satu terapi Aqil. Menggambarnya juga tidak langsung organik yang mengagumkan begitu namun melalui pattern. Jadi memang mbak Amalia juga yang mengarahkan bukan serta merta Aqil menggambar lantas Uminya marah2.. Bu, what’s wrong with you?

Banyak yang protes soal pemilihan font dan layout buku Wonderful Life. Buatku nggak masalah. Seorang CEO dari industri kreatif sudah pasti ingin menampilkan sesuatu yang beda. Sesuatu yang tidak biasa. Sekaligus ingin menunjukkan pada dunia, betapa semarak dunia Aqil.

img_2293img_2294img_2295img_2296img_2297img_2298
Baca 173 halaman dalam waktu 2,5jam saja. Ringan namun penting. Perjalanan hidup yang lebih mirip autobiografi singkat tentang kehidupan mbak Amalia bersama anak disleksia. Disleksia juga gak mengambil porsi banyak dalam buku ini karena inti ceritanya sepertinya memang bukan itu.

Aku kagum dan merindiiiingggg sekali ketika Aqil bisa menyelenggarakan pameran yang pertama. Bisa kubayangkan bagaimana harunya hati mereka ketika itu 😍😍😍

Hebat dan ikut bangga.

Setelah baca bukunya, aku menyarankan nonton wawancara mereka di youtube pada acara Sarah Sechan.

Ah ya Tuhan, aku langsung jatuh cinta pada sosok Aqil. Cerdas, berani dan berbinar2. Aku sih jarang lihat ya anak seusia dia diwawancara di tv bisa bicara lantang dan tenang seperti dia. Mbak Amalia pasti ikut berperan paling banyak terhadap perkembangan karakter Aqil. Saya selalu percaya, pada orang hebat pasti terdapat orangtua yang canggih. Mereka satu lagi bukti.

Sayang sekali filmnya hanya bertahan 1minggu di bioskop. Semoga edukasinya tetap berlanjut. Dyslexic: hidden disability.

Terimakasih telah berbagi cerita, Mbak Amalia.

Posted in sekolah

Sekolah Victory Plus (SVP)Β 


Rasanya nggak fair kalau aku nggak menuliskan pengalaman Anelka selama bersekolah di sini. Padahal sekarang sudah masuk tahun ke tiga.

I might say, it’s not perfect, but this is the best school i can find in Bekasi for Anelka. Aku dateng ke sekolah ini 5x sejak masih hamil Anelka sampai akhirnya memutuskan bayar dan join πŸ˜‚


Nggak mudah buat aku memutuskan untuk komitmen jangka panjang. Bismillahirrohmanirrohiim.. Alhamdulillah cocok. So far aku senang sih di SVP. Komplain pasti ada. Hari pertama masuk sekolah di 2014 aku udah komplain πŸ˜‚ Dan mereka menanggapi dengan cepat, tanggap, dan aku lihat banyak improvement banget di berbagai hal. Masukan kita didengarkan dengan baik, jika mungkin dikabulkan.

Yang bikin aku kagum, pertama kali masuk di kelas toddler (2thn), murid2 ditemani orangtuanya di kelas selama seminggu kecuali Anelka. Kupikir waktu itu, kenapa gak langsung ditinggal aja toh dia udah ngerti kalau sekolah kelas toddler ya memang sendiri. Ibu menunggu di luar. Minggu kedua, semua orangtua tadi serentak meninggalkan anaknya di kelas. Heboh lah semua.. Anelka yang nggak pernah nangis sama sekali di sekolah jadi ikutan nangis karena 14 teman lainnya nangis semua. Pada waktu itu guru kelas kalau nggak salah ada 4. Nggak tau dateng dari mana, sambil ngintip kuhitung ada 9 miss yang menangani anak2 termasuk kepala sekolah πŸ˜‚

Ada anak yang keliling sekolah mencari mamanya. Ada yang diajak main ke playground luar, ada yang main iPad. Heboh semua πŸ˜… Tapi aku gak nyangka sih.. 9!! Yup, mereka seserius itu.

Days at SVP

Ada sekumpulan ibu2 berlabel PSG (Parent support group) yang seringkali membuat kegiatan2 rutin di sekolah. Misal ada yoga, pengajian, tausiyah, doa rosario, cooking class, parenting seminar dll dll..

Dari sekolah juga rutin mengadakan PALS (Parents as learners), baby sitter class, ya seperti kelas2 parenting gitu lah. Aku sebisa mungkin datang kalau ada acara kayak gini. I think we need to support the community. Jadi meski sendiri, temen2 deketku gak ikutan, aku tetap datang. Why not?

When in doubt

Kalo ngomongin cara belajar, report, prestasi, dll mungkin hal kayak gitu bisa ditanya ya ke admission atau ke guru2nya langsung saat open house. Tapi informasi pengalaman sebagi murid yang kadang susah didapat.

Selama ini kalau aku merasa ragu dengan SVP, sering kali dengan datang ke acara tadi seperti merecharge trustku lagi. Dengar kepala sekolahnya ngomong jadi ingat lagi visi misinya SVP, goalsnya, profilenya. Bikin yakin lagi why i should put my kids here. Why IB curriculum.

Di berbagai kesempatan juga sering kali aku ngobrol dengan orangtua2 senior yang anaknya sudah di smp sma. Sekedar nanya gimana perkembangan anak2 mereka.. Apakah sesuai dengan yang diharapkan? So far dari aku ngobrol2 sih semua puas. Dengan karakter anak2nya, dengan perkembangan kepribadiannya, mereka puas dan bangga with everything their kids are becomes.

Beberapa kali aku ngobrol juga dengan anak sma di sana. Berbagi pengalamannya selama di SVP. Dia pernah kemana aja, punya pengalaman apa. Somehow aku terharu dan gak sabar menanti Anelka mengalami hal menyenangkan seperti itu.

Kalau boleh milih, aku ingin menyekolahkan anakku di Cikal sejak bayi-TK tapi tingkat selanjutnya pilih SVP 😁

Mungkin banyak orang berfikir “ngapain sih sekolah mahal2, sekolah negri juga bisa kok masuk PTN. Sekolah biasa juga bisa kok kerja di perusahaan ternama”. I know. Tapi pengalamannya? Pengalaman dan kesempatan yang didapat anak2 di tiap sekolah kan beda2. Dan aku percaya pengalaman itu ikut membentuk karakter mereka. That’s why aku percayakan Anelka di SVP untuk bisa merasakan pengalaman seeeeebanyak2nya.. Seeeeeekaya2nya.. It makes him, him.

SVP sedang dalam proses mengurus DP alias Diploma Program. Selama ini di SVP masih pakai Cambridge untuk kelas 11-12. Tapi gak lama lagi akan jadi DP kok. Jadi semoga gak ada lagi yaaaa yang bilang SVP itu sekolah IB abal2 atau ecek2 karena programnya gak full sampai DP. It never to be like that. You can check it out at IB website atΒ http://ibo.orgΒ .

Btw SVP tuh kalo gak salah di penilaian terbaru jadi sekolah IB paling tinggi loh nilainya se Indonesia tapi aku mesti make sure dulu sih takut salah ngomong πŸ˜‚

Posted in sekolah

Sekolah Cikal. My forever love β€οΈ

Ha ha ha ini sungguhlah lebay judulnya. But it’s totaly trueee gimana dong πŸ˜‚
Jadi 3 tahun lalu itu akhirnya aku masukin Anelka di rumah main Cikal FX. Merasa kayaknya Cilandak jalurnya lebih enak, akhirnya aku pindah ke sana dan jatuh cinta. Gak lama sih, tapi meninggalkan kesan dalam yang bikin aku nangis saat memutuskan gak meneruskan Anelka di sana. Seakan aku telah merenggut kebahagiannya.

Ketika ada Ameesha, aku sekolahin dia juga ke Rumah Main Cikal FX.

Overall, I’ve never found sekolah se-riang Cikal.. Seperhatian itu, semenyenangkan itu. Apalagi Ameesha berbanding kebalik sama Anelka. Dia suliiiittttt sekali tertawa. Sampai2 pernah dibikin lomba siapa yang bisa bikin Ameesha ketawa haha.. Kalau begitu keadaannya, kemana lagi aku sekolahin dia selain di Cikal kan?

I think they’re the best.Β 

Banyak banget keputusan2 yang dibuat based on their student. Apa yang mereka butuhkan, apa yang mereka rasakan. Dipikirin banget bener2 kira2 yang buat anak nyaman gimana dulu..

Pada waktu nulis ini aku gak bisa kasih contoh saking banyaknya. Lagi gak kepikiran. Tapi mungkin contoh mau masuk TK aja deh yah..

Jadi sebelum TK itu ada playgroup. Playgroup, masuknya 3x seminggu 3jam lamanya. Di nyaris penghujung semester terakhir, mereka ada semacam penyesuaian. Ada test dan interview yang menghasilkan keputusan ini anak udah siap masuk TK atau belum.

Aku gak tau sih, tes semacam itu baik atau tidak diterapkan. But i think it’s fair enough. Semua punya kesempatan yang sama gak liat umur. Karena jenjang usia di playgroup kan lumayan juga. Bisa 11 bulan bedanya.

Setelah ketahuan mana2 saja yang akan melanjutkan ke TK, mereka merubah level kelasnya. Dibuat semacam kelas persiapan seperti mulai diminta pakai seragam.. Jam belajar ditambah.. Bahkan teman sekelas di kelas persiapan itu akan jadi teman mereka kelak di TK. Jadi mereka gak perlu adaptasi lama nantinya.

Menurutku itu hal baik sihh.. Anak juga lebih nyaman dan smooth transisinya.

Tapi the best thing yang Cikal punya dan jarang ditemui di tempat lain itu SDMnya deh kayaknya. Guru2nya kayaknya kadar kebahagiaannya 500%. Jadi kalau menurut teori anak hanya bisa menyerap 1/5 berarti ya anak2 bahagianya jadi 100% πŸ˜‚ teori ngasal. Bisa akraaab banget bener2 kayak keluarga dan teman. Kayaknya mereka sevisi semua deh.

Foto dari Instagram orangtua murid

Di sebuah acara dengan tema farmer, gurunya aja dandannya kayak gitu πŸ˜‚. Orang2an sawah! ini salah satu guru favorit yang kukagumi. Cikal beruntung sekali punya beliau 😍

Yaudah lah sekian aja postingnya. Gak akan selesai dibahas. Sulit untuk bisa objective. Memang harus merasakan sendiri πŸ˜… Ketemu beberapa orang dari circle beda2 ya kesannya dengan Cikal ya sama. Sehingga suliiittt untuk bisa pindah ke lain hati.

Terimakasih telah membuat sekolah sebagus ini. Sekolah yang menyenangkan dan membuat jatuh cinta. ❀️

Posted in Uncategorized

Bye Ramadhan 2016


Usualy, I’m not that into Ramadhan. Entah kenapa semakin dewasa, rasa2nya keterikatan dengan Ramadhan kok semakin jauh.. Beda ketika waktu kecil yang rasanya menunggu2 sekali bulan Ramadhan tiba.

Dengar anak2 keliling membangunkan orang sahur, main bersama2 di tempat lapang sambil menunggu pagi, taraweh dan tadarus bersama2.. Seruuuuu sekali rasanya.. Seru mainnya hehe.. Tapi memang itu cuma ada pada saat Ramadhan jadi rindu sekali suasananya.

Semakin dewasa rasa rindu itu mulai hilang dan berganti dengan rasa yang biasa saja. Mungkin karena gak ada tradisi yang ditunggu seperti ketika waktu kecil. Mungkin..

Sampai tiba di akhir Ramadhan 2016….

Aku baru mikir.

Baru terasa.

Baru kehilangan.

Aku baru sadar bahwa Ramadhan itu bulan yang membawa berjuta kebaikan. 

Amal dan sedekah gak pakai mikir.

Kegiatan sosial dimana2.

Panti asuhan banyak didatangi orang.

Orang miskin banyak dapat santunan.

Banyak yang bagi2 makanan.

Silaturahmi dengan teman2 yang gak pernah kita temui lagi. Mau teman sd, smp, sma, teman ketemu gede dst. Pokoknya cuma ketemu ya pas Ramadhan aja dalam acara buka bersama. 

Belum lagi ibadah yang katanya imbalannya berkali2 lipat pahalanya..

Masya Allah baiknya Tuhaaaaaan 😍

Banyak yang dapat THR sehingga bisa beramal lebih banyak lagiii.. Bisa beli keperluan2 yang biasanya perlu uang sejumlah besar.. Bisa untuk liburaaan dll dll dll

Belum lagi tetangga, teman dekat dan sahabat yang saling mengirimkan hantaran parcel atau sekedar makanan berbuka atau kue2 lebaran.. Aaah aku suka sekali hadiaaaah ❀️❀️


Terimakasih banyak teman2 tersayang for your thoughtful gift.. Terimakasih Tuhan yang sudah menyadarkan aku  bahwa Ramadhan adalah bulan yang begitu indah dan istimewa.

Aku gak menyangka that i miss Ramadhan already 😦

Sekarang aku mengerti mengapa banyak orang menulis “semoga kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan”. Amiin.. Amiin amiin ya rabbal alamiin 😍

Posted in Uncategorized

Pertanyaan yang ‘diharamkan’ saat lebaran

Sudahkah ramai di timeline social mediamu mengenai tata cara bertanya saat silaturahmi nanti? πŸ™‚

Aku jadi kepikiran.

Mungkin memang melelahkan sih dikomentari hal yang kita perjuangkan mati2an tapi belum terlihat membuahkan hasil seperti menguruskan badan (kenapa harus kurus?) atau menumbuhkan janin dalam rahim (well, hmm).

KALAU EMANG BELUM DIKASIH TUHAN TERUS GUE BISA APA??

Hmm.. Tapi kupikir2, apa kita bisa melarang orang untuk tidak bertanya?

Apa kita bisa mengatur orang harus tanya apa?

Apa kita bisa mengontrol orang lain apa yang harus mereka lakukan dan tidak boleh dilakukan?

Sepertinya satu2nya hal yang bisa kita coba kontrol adalah diri kita sendiri. Kewarasan kita, ketenangan batin dan jiwa kita.. Kalau kita merasa content dengan diri kita sendiri, feeling secure, biasanya pertanyaan2 macam itu hanya akan menjadi angin lalu.. So what? This is my own life!

Maybe at that level, we don’t get irritated easily. At that level, we could possibly laughing at our self.

“Hahaha gendutan yaaa? Iya nihh abis aku suka banget makan gimana doongg.. Apalagi di bawah kantor gue ada restoran double hamburger yang enaaaak banget.. Bisa hampir tiap hari gue makan haha cobain deh enak banget.. Gileee burgernya tuh gede banget boookk. Yuk bareng yuk kapan?”

I don’t know, maybe it’s not that easy. Just my two cents. I just thought maybe cuek and being content are the best two options. 

Maybe.

Posted in Uncategorized

Keberagaman


I think i need to post this 😍

Weekend lalu, kami berbuka puasa bersama teman2 dekat Anelka yang sejak bayi sering bermain bersama-sama.

Sering banget main, sering banget ketemuan, sering sekali makan bareng, tapi rasa2nya baru kali ini yang mereka benar2 berdoa bareng2 sebelum makan dan ‘berdiskusi’ singkat.

Buatku, saat kemarin itu mengharukan. Mereka saling menghargai, tidak menyalahkan, tidak merasa cara berdoa yang dilakukannya yang paling benar.

Mereka mengerti bahwa masing2 orang mempunyai cara masing2 untuk berdoa. Yang terpenting sehabis berdoa mereka bisa berlomba memperebutkan juara pertama yang paling dulu habis.

Cara berdoa tidak penting, yang penting semua sudah berdoa sudah cukup. Itu saja.

Kalau saja orang dewasa bisa berfikir sesimple mereka. Lakum dinukum waliyadin πŸ™‚