Posted in movie, Parenting

Wonderful Life Amalia Prabowo. Film vs Novel.

[[Spoiler alert]]

Beberapa waktu lalu pertama kali liat trailer itu dari sebuah grup whatsapp ibu2.. Dengan isu sesensitif itu, cuplikan film tadi mudah sekali dapat perhatian sehingga beredar dari satu grup ke grup lainnya. Ada yang menangis atau merasa terkoneksi, jleb jleb jleb. Buatku, rasanya biasa saja. Tapi aku tau itu film bagus. Terasa sekali bahwa itu merupakan salah satu film Indonesia yang wajib aku tonton. Tentang anak disleksia, pikirku.

Hari pertama filmnya keluar di bioskop, aku langsung ajak mas Anvid dan Anelka nonton. Sejak awal nonton, aku stresss 😂 😂😂

“Hah ibunya kenapa marah2 gitu sih?”
“Ibunya kok jutek amat sih?”
“Kok anaknya gambar2 aja marah?”
“Ini ibu kenapa sih? Ini mah ibunya yang sakit…”

Sssssstttttt…. Mas Anvid protes.

Sori, tapi di film itu aku gak bisa liat perjalanan karakter Uminya kenapa jadi orang yang jutek banget dan mengapa karakter Umi tidak menyenangkan begitu.

Apalagi untuk jabatan setinggi itu masa masih tinggal bersama orangtua yang jelas2 kayaknya memiliki hubungan yang buruk. Orangtua yang kayaknya nyebelin dan otoriter masa sih ibu bos tahan?

Ibu bos yang karakternya sepertinya keras dan ambisius, biasanya gak tinggal bersama orangtua. Biasanya sih..

Adegan demi adegan berlalu, aku bener2 gak bisa relate dan gak ngerasa masuk akal. Ini kejadian tahun berapa sih? Sekarang kan 2016 emang masih aja kecerdasan anak hanya diukur dalam bidang akademis?

Emang kenapa kalo anaknya suka gambar? Dia gak tau bakat anak beda2?
Emang dia gak bisa cari tau atau dateng ke ayah edi gitu misalnya?
Whaaattt ke orang pinter? Ke dukun? Dukun cabul?

Masuk akal nggak sih, seorang perempuan metropolitan, menduduki posisi tertinggi di suatu perusahaan advertising, udah pasti pinter banget. Masa orang sepintar itu percaya dukun, sinshei, orang pinter? Ironis sekali.

Ada adegan di mana mereka makan tapi tidak bayar lalu kabur dan senang sekali ketika berhasil lolos. Ya meskipun akhirnya mereka kirim uang banyak sih ke warteg itu di kemudian hari, tapi adegan itu sempat mendapat protes dari Anelka.

“Kok mereka gak bayar?”

“Kok kabur?”

“Kok gak bayar seneng sih?”

Kemudian tiba di akhir cerita. Bukan surprise atau hal baru yang sulit ditebak. Dan pelajaran yang dapat dipetik juga bukan hal baru lagi. Memang bukankah itu hal yang sering kali dikampanyekan oleh penggiat atau pemerhati anak beberapa tahun terakhir? Bahwa tiap anak memang dilahirkan spesial dan biarlah mereka berkembang sesuai bakatnya sendiri. Sangat tidak asing.

Namun dibalik itu semua, aku penasaran sekali dengan tokoh mbak Amalia. Apa memang seperti digambarkan di film? Perempuan stres, ‘sakit’, jutek serta frustrasi sampai suami dan orang sekitarnya pergi meninggalkan dia karena ia begitu tidak menyenangkan. Masa sih?

Lalu Aqil. Apa iya dia anak yang menyebalkan seperti itu? Tidak bisa bekerjasama dengan baik bersama ibunya.. Berdiri di perahu ringkih yang oleng sekan tidak perduli, keluar dari mobil seenaknya padahal sudah berjanji untuk tinggal, dll jujur saja saya tidak merasa simpatik dengan Aqil di film.

Mengenai disleksia, tidak banyak dibahas. Tidak bisa paham kerepotan yang mereka dialami. Seperti apa, bagaimana, apa salahnya?

Aku tau itu semua hanya film, yang semua hal bisa dengan mudah terjadi di dalamnya. Tapi entah kenapa, banyak hal di film itu yang bertentangan dengan logikaku. Tahun 2016, seorang ceo perempuan handal dari dunia periklanan nyari pengobatan disleksia ke dukun dan orang pinter, oh come on. Gak logis sama sekali menurut aku 🙈

Seharian mikirin filmnya sambil baca review2 dari orang2 yang sudah lebih dulu diundang premiernya.. Browsing tentang mbak Amalia sampai akhirnya, hari itu juga aku ke Gramedia untuk beli bukunya.

Surprise surprise, i looveeee the book!

Beda banget sih menurutku sama di film. Dari buku lebih jelas semuanya. Dan bapak, bapak tidak terlihat seperti orang tua angkuh yang menengok saja tidak bisa seperti di film 🙈 Kupikir si bapak stroke. Lalu suudzonku sirna ketika tau mereka bercerai bukan karena mbak Amalia pemarah lantas banyak yang tidak tahan seperti dugaanku, melainkan karena permasalahan agama. Dari buku itu juga aku tahu bahwa menggambar adalah salah satu terapi Aqil. Menggambarnya juga tidak langsung organik yang mengagumkan begitu namun melalui pattern. Jadi memang mbak Amalia juga yang mengarahkan bukan serta merta Aqil menggambar lantas Uminya marah2.. Bu, what’s wrong with you?

Banyak yang protes soal pemilihan font dan layout buku Wonderful Life. Buatku nggak masalah. Seorang CEO dari industri kreatif sudah pasti ingin menampilkan sesuatu yang beda. Sesuatu yang tidak biasa. Sekaligus ingin menunjukkan pada dunia, betapa semarak dunia Aqil.

img_2293img_2294img_2295img_2296img_2297img_2298
Baca 173 halaman dalam waktu 2,5jam saja. Ringan namun penting. Perjalanan hidup yang lebih mirip autobiografi singkat tentang kehidupan mbak Amalia bersama anak disleksia. Disleksia juga gak mengambil porsi banyak dalam buku ini karena inti ceritanya sepertinya memang bukan itu.

Aku kagum dan merindiiiingggg sekali ketika Aqil bisa menyelenggarakan pameran yang pertama. Bisa kubayangkan bagaimana harunya hati mereka ketika itu 😍😍😍

Hebat dan ikut bangga.

Setelah baca bukunya, aku menyarankan nonton wawancara mereka di youtube pada acara Sarah Sechan.

Ah ya Tuhan, aku langsung jatuh cinta pada sosok Aqil. Cerdas, berani dan berbinar2. Aku sih jarang lihat ya anak seusia dia diwawancara di tv bisa bicara lantang dan tenang seperti dia. Mbak Amalia pasti ikut berperan paling banyak terhadap perkembangan karakter Aqil. Saya selalu percaya, pada orang hebat pasti terdapat orangtua yang canggih. Mereka satu lagi bukti.

Sayang sekali filmnya hanya bertahan 1minggu di bioskop. Semoga edukasinya tetap berlanjut. Dyslexic: hidden disability.

Terimakasih telah berbagi cerita, Mbak Amalia.

Posted in Parenting

Malu?

Pengen cerita.

Tahun lalu pernah ikut seminar parenting Ayah Edy, kurang lebih begini pesannya..

Anak kecil itu gak tau arti kata malu. Dia akan dengan senang hati maju ke panggung, joget2, teriak2 tanpa merasa sungkan. Tapi justru kita orangtuanya yang ribut2 suruh si anak turun..
“Maluuu maluuuu.. Jangan begitu doong, kak.. maluuuu ayo turuun..”
Jadi jangan heran kalau sudah besar anak kita tumbuh jadi anak yang pemalu.. Takut ditunjuk, takut diminta naik ke atas panggung…

Begitu kurang lebih.

Jadi ingat, kemaren ke H&M Gancit ada anak, ibu dan susternya.
Aku lagi pilih sepatu untuk Anelka reflek nengok ketika dengar suara agak kencang dari suster
“eh hush, jangan joget2 gitu dong.. Malu ini kan tempat umum.. Udah jalan biasa aja…” 🙂

Di toko itu emang memasang lagu upbeat yang enak banget buat goyang2 kepala sedikit. Apa yang salah sih dengan ituu, Ncuss? Hehe

Posted in Parenting

#PlaylabID bersama Fisher Price

image

Siang tadi diajak Tika dateng ke PlayLab-nya Fisher Price di Four Seasons Hotel.

Apasih PlayLab?
Jadi PlayLab itu semacam acara kumpul2, sharing di small group, antara Fisher Price dan ibu2 sekaligus anak mereka yang rentang usianya sesuai dengan targetnya Fisher Price.

Tadi itu baru pertama kali di Indonesia. Katanya nantinya akan diadakan berkala sesi2 begini..

Kalo di tempat asalnya di East Aurora, NewYork sana, PlayLab tuh tempat semacam tes kecil2an. Anak dan ibu dibiarkan bermain dengan produk2 Fisher Price, sedangkan tim dari Fisher price memantau dari balik one way mirror.
Kira2 itu mainan enak gak dipegangnya, si anak bisa gak maininnya, dsb. Seru yaaaaa.. All they have to do is to play play play! 🙂

Sebetulnya, bermain itu hal yang penting untuk perkembangan anak. Tapi sayangnya, di indonesia ini katanya kurang mendapat perhatian. Rata2 yang dibahas itu mengenai nutrisi dan gizi anak, pakaian, sekolah, porsi bermain masih sedikit dibahas. Padahal itu nggak kalah penting..

Aku pernah sih dateng ke seminar tentang “Bermain” dan punya juga buku yang isinya tentang bermain anak, tapi mungkin memang nggak sebanyak pembahasan topik anak yang lain yaa..

Banyak kutemuin komentar2
“Ah bingung mau beli mainan apaan.. anak gue mainan botol aqua juga udah seneng..”
Atau
“Sayang ah beli mainan mahal2, anaknya cepet bosenan..”

Nah visinya PlayLab di Indonesia ini bukan agar kita beli mainannya Fisher Price kok. Tapi lebih ke edukasi bahwa bermain itu penting buat anak. Kayak gimana mainan yang tepat, apa kegunaannya dll gituu..

Bermain dengan mainan yang tepat bagi balita itu bisa menstimulasi motoriknya, melatih problem solving, mempertajam alat indera, dll..

Tadi Ruben dari Mattel juga sempet menjelaskan. bahwa mainan itu bukan buat bikin anak kita sibuk terus dia jadi anteng dan kita bisa ngapa2in.. Tapi ya kita juga mestinya dampingi anak kita.. Bermain bersama.. Dan mainan juga gak sekedar asal mainan yaaa..
Sebaiknya, mainan itu memang sesuai dengan usia anak. Karena produsen2 mainan kayak Fisher Price gini kan bikin mainan tuh bener2 diteliti dulu gitu kaan sesuai kemampuan anaknya..

Misal, untuk anak 3 bulan yaa mainannya nggak mungkin dong yang berat2 atau puzzle misalnya. Mana bisa juga dia kaan..

Kasih mainan yang nggak sesuai usia itu bisa bikin anaknya jadi cuekin mainannya karena mungkin belum ngerti dan belum tertarik.. Nanti bt lagii udah beli mahal2 nggak dimainin hihihi

Aku pernah juga terinspirasi dari sebuah blog. Dia cerita bahwa dia sengaja nggak banyak beli mainan yang printilan nggak gitu penting. Mending uangnya dia tabung untuk beli mainan yang bener2 bagus sekalian. Karena bermain itu merupakan investasi jangka panjang.

Pernah juga aku dengar seminar, kita tuh nggak perlu beli mainan2 mahal. Sesimple main sama anggota tubuh kita tuh juga menyenangkan..

Well, kalo aku ada di tengah2 aja.. Beliin mainan yang sesuai kebutuhan.. Misal Anelka lagi belajar genggam, beli mainan yang bisa menstimulasi genggaman. Anelka lagi belajar manjat, beliin perosotan. Jadi sesuai kebutuhan anaknya aja. Jadi yaa mainannya Anelka nggak banyak tapi nggak sedikit juga..
Selain bermain dengan mainan, aku sama Anelka juga bermain dengan peralatan dapur, alat melukis dan perangkat bersih2 hehe 😀

Seneng banget tadi ngobrol2 di PlayLab-nya, akrab dan hangat.
Terimakasih yaaa Fisher Price :*

Oiyaa pesanku, sehabis bermain jangan lupa ajak beres2 juga yaa.. Nggak ada yang terlalu dini kan untuk mengajarkan kebiasaan baik? 😉
image

*foto lain menyusul yah hihi*

Posted in 1 tahun, Parenting

Let them help

Kadang suka mikir.. Kenapa mas Anvid begini kenapa begitu? Kenapa aku bisa gini, mas Anvid gak bisa gitu. . Not in a bad way, cuma mikir2 aja kok bisa beda, kenapa, gimana, karena apa?

Kadang suka sebel sekaligus lucu dengan kenyataan aku lebih jago pakai dongkrak ketika ban mobil pecah di jalan.. Aku lebih bersemangat bikin pesawat2an dari kardus untuk properti ulang tahunnya Anelka.. Aku bisa bikin rak buku dari kayu sendiri.. Aku lebih handal memasang lemari bongkar pasang bahkan ketika hamil besar.. dan halhal lainnya..

Hal2 seperti itu membuatku berfikir. Kenapa ada orang yang punya inisiatif tinggi membetulkan barang rusak, ada yang cuek saja tidak melihat kerusakan itu, ada yang tau beres tinggal memanggil tukang..

Jujur, aku suka sebel kalau untuk mengganti keran bocor saja kami harus panggil tukang. That’s a very simple thing! Mestinya kan bisa dikerjain sendiri hehe hehe hehe..

Sekarang aku sudah tau jawabannya! Menurutku, menurutku lho yaa.. mungkin gak valid karena gak pakai dasar teori apa2 hehe.. Menurutku, salah satu faktornya, anak itu perlu diajarkan basic life skill untuk menunjang hidupnya. Lalu perlu diajarkan untuk peduli dan peka juga dengan keadaan sekitar.

Sesimple “aduh telur ibu habis. Padahal ibu perlu untuk bikin kue. Bisa tolong belikan ke warung gak?” , misalnya. Dengan itu mungkin anak bisa lebih peka untuk membantu dan mengerti bahwa ibunya butuh sesuatu.

Agak kaget juga mas Anvid gak pernah tau bahwa jaman dulu, tv itu ada iurannya lho.. Bayar sekian ribu rupiah untuk satu tv, dikalikan berapa tv yang ada di rumah. Berbentuk perangko tanda bukti bayarnya.
“aku kan masih kecil waktu itu, ya nggak tau lah..”
“aku kan lebih muda dari kamu, mas.. aku aja tauu..” Hihi hihi hihi

Ini aku cerita bukan untuk mendiskreditkan suamiku lho… I still love him no matter what. Kontemplasi ini dimaksudkan untuk bagaimana kami mengarahkan Anelka kelak. Karena keseharian yang kami terapkan, akan terbawa terus sampai ia dewasa. Aku berharap Anelka bisa jadi anak yang helpful.. Peduli dengan sekitarnya, tanggap gitu lah pokoknya..

Jadi kesimpulan pribadi aku, adalah….
Sebisa mungkin libatkan anak dalam kehidupan sehari2 kita.. Jangan buat batasan seolah2 mereka gak perlu tau apa yang terjadi di rumah. Ajarkan. Biarkan mereka melihat.

Aku nggak suka mind set seperti misalnya, rumah bocor, jendela lepas, keran rusak, ibu kecipratan minyak, anak gak perlu tahu.. “Udah kamu masih kecil. Sana main di kamar aja..”

Hal seperti itu sepertinya lama2 akan menumpulkan rasa sensitif dan kepekaan pada anak dan akan membuat dia menjadi anak yang ignorant kelak. Tidak peduli dengan kesusahan orang lain dan hanya memperdulikan dirinya sendiri..

Let them help! 🙂

image

image

image
image

Posted in Parenting

Sebuah petuah

Children Learn What They Live

Jika anak dibesarkan dengan celaan
Ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan
Ia belajar untuk berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan
Ia condong jadi rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan hinaan
Ia condong menyesali diri sendiri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi
Ia belajar untuk menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan dorongan
Ia tumbuh menjadi percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian
Ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan akhlaq
Ia tahu cara berlaku adil

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman
Ia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan dukungan
Ia belajar untuk menyayangi dan
bisa menjaga dirinya sendiri

Jika anak dibesarkan dengan
kasih sayang dan persahabatan
Ia menemukan cinta dan
dan mampu berbagi

Dorothy Law Nolte, 1954