sekolah

Memilih sekolah anak – Part 3, perbedaan kurikulum IB vs Cambridge

Sebelumnya ada latar belakang kehidupan sekolah aku dalam part 1 di link ini, dan masa kini-ku dalam part 2 di link ini.

Sekarang waktunya membaca sekilas mengenai kurikulum sekolah.

Kurikulum buanyak sekali..

Dari Kurikulum Nasional, Montessori, Sergio Amelia, International Baccalaureate, Cambridge, IPC, Kurikulum Singapore, Multiple Intelligences, belum lagi kurikulum dari sekolah masing2 yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa..

Kurikulum yang sama, diterapkan di sekolah yang berbeda ya bisa saja kesehariannya beda. Tergantung filosofi sekolah tersebut. Lagi2 mesti datang, cari tahu, atau baca review dan forum dari orang2 yang sudah bersekolah di sana untuk lebih jelasnya. Tapi ya tentu saja nggak semua orang tua seribet aku mau ngerepotin diri sendiri bolak balik cari tau info tentang sekolah.

Gapapa, semua orang tua berhak mau bersikap apa, dan berhak memutuskan anaknya mau disekolahkan di mana.

Mencari sekolah SD di Bekasi

Buat aku sekarang, pilihannya nggak banyak. Yang kutahu, di sekitar sini ada Al-Azhar, Marsudirini, Global Prestasi School (GPS), Kinderfield, Sekolah Victory Plus (SVP), Binus Bekasi, Sekolah Ananda, BPK Penabur, Unity, Royal Wells. Banyak sekali sekolah beragama islam, tapi karena aku maunya sekolah umum, sehingga pilihan yang tersisa tinggal GPS, Kinderfield, SVP, Binus, Unity dan Royal Wells. Teman2 dekatku lihat2 juga sekolah ACS (Tiara Bangsa), SIS dan Beacon di Kelapa Gading, Global Sevilla Pulomas (ini aku super naksirrr karena sealiran sama aku. Nanti ya coba kalau sempet kupost).

Cikal sih udah pasti jadi pilihan. Tapi mas Anvid menolak keras yang agak jauh2 itu.. Alasan efisiensi waktu dan apa sih yang kukejar?

Dari 7 itu, pilihanku mengkerucut ke kurikulum, cara belajar, kredibilitas, gedung dan sekolah berbahasa inggris. Sisa Kinderfield, SVP, Binus. Banyak beredar dari testimoni teman, tetangganya teman atau memang yang bersekolah langsung di sana kalau Kinderfield katanya berat beban pelajarannya, banyak sekali PRnya dan banyak yang ikut les tambahan. Lihat logo di sekolahnya ada pasang logo Cambridge. Tapi Cambridge itu not apply in all subject. Biasanya hanya inggris, math dan science. I’m not sure dia ambil subject apa.

Tinggal SVP dan Binus Bekasi. Waa ini memang saingan ketat nih.. Meski sebenarnya gak layak dibandingkan karena beda kurikulum tapi in fact ibu2 Bekasi membandingkan both school ini.

Sebagai new comer di Bekasi, Binus lumayan cepat ambil hati orang2.. Ambil murid SVP pun banyak πŸ˜‚ Teman dekatku juga beberapa akan beralih kesana.. Tapi untuk aku pribadi, aku coba bikin perbandingan jujur dan singkat.

Untuk penentuan perbandingan ini, setiap orang tua pastinya beda2 priority yaa.. Seperti yang aku uraikan di atas, shortingku juga pasti berbeda dengan orang tua yang lain.

Dengan perbandingan ini, aku pribadi akhirnya tetap memilih SVP karena sudah jatuh cinta dengan IB kurikulum sejak hamil Anelka.

Secara uraian, perbedaan IB dan Cambridge juga bisa dibaca pada tautan berikut. IB, dalam pengambilan rapor ada namanya SLC, Student Led Conference. Jadi kalau BLW membiarkan si bayi yang memimpin proses makan, SLC membiarkan si anak yang memimpin proses rapotan. Jadi antara orangtua dan anak saja. Guru hanya memberi guidance yang si anak juga sudah paham.

Jadi kita benar2 lihat sendiri kemampuan anak kita semana. Lebih dan kurangnya dimana. Alat peraganya mereka yang pilih dan tunjukkan ke kita. Bukan hanya dengar dari ‘lip service’ guru semata. Contohnya seperti gambar ini

img_3919-1img_3920-1img_3921-1img_3922-1

Ini SLC Anelka di TK A kemarin. Dia sudah SLC sejak di Nursery umur 3thn. Dan sistem rapotan SLC ini banyak diadopsi oleh sekolah berbasis non IB. Karena dianggap sebagai cara penilaian yang jujur dan menarik. SLC cuma 1x setahun biasanya. Jadi selebihnya gak yang tipe ini kok. Bisa ngobrol dengan gurunya juga..

Kemudian bedanya lagi, jadi waktu itu sempat ada acara di sekolah yang menjelaskan lebih dalam tentang kurikulum and what they do in SVP. Aku sempat tanya gimana sih cara pilih sekolah yang baik dan gimana sih kita tau mana kurikulum yang cocok buat anak kita? Apa juga bedanya IB dengan Cambridge?

Pada waktu itu, beliau yang jawab gak menjawab banyak. Tapi menjawab lewat cerita 2 anaknya yang sekolah di sekolah berbeda. Yang 1 IB yang 1 Cambridge karena dapat scholarship di Singapore.

Ketika selesai sekolah dan ingin melanjutkan ke universitas, si anak yang di Cambridge cuma bilang “what i missed about IB school is presentation and performing” kurang lebih intinya begitu.

Jadi di sekolah Cambridge-nya juga tidak memberikan ekskul yang banyak. Kalau nggak salah cuma ada choir. Jadi selama masa sekolahnya anak itu cuma mengikuti choir terus aja selama masa sekolahnya. Karena mungkin memang sekolahnya lebih mementingkan nilai akademis yaa, aku kurang paham juga tapi biasanya begitu.

Cambridge atau IB sama2 ada essay tapi di Cambridge kesempatan untuk mempresentasikan essaynya gak seperti di IB. Kurang lebih kebayang ya perbedaannya.

Gak ada yang salah dengan sekolahan yang mengejar akademis aja.

Tapi gak semua orangtua bertujuan yang sama. Maka dari itu pemilihan sekolah sifatnya sangat personal sekali tergantung visi dan kebutuhan.

Kalau aku saat ini merasa akademis bukan segalanya. Memang penting tapi standard yang ada di SVP sekarang cukup menurut aku. Mereka punya prestasi, target dan benchmark. Aku butuh hal lain lebih dari sekedar akademis. Aku gak memasukkan anakku sekolah dengan harapan dapat nilai raport/UN yang bagus aja. Tapi aku juga pengen katakter dia kebentuk, kebiasaan baik terbiasa dilakukan, eager to learn and research, empathynya jalan, tanggung jawab dan gak takut nyoba hal baru terpupuk, experiencenya banyak, banyak waktu untuk melakukan hal selain belajar palajaran dll dll dll

Bukan berarti sekolah lain tidak mengajarkan itu, tapi aku merasa visiku sebagai orang tua match dengan visi SVP. Selalu suka dangan konsep global citizen.

Apa semua orangtua cocok dengan cara belajar kurikulum IB?

entu aja nggak!

Aku banyak denger dari sekolah IB macam begini seperti Cikal, Mentari juga. Beberapa orangtua merasa sekolah ini terlalu santai. Belajarnya seperti ketinggalan tapi sebenarnya hanya beda cara dan pemahaman aja.

Contoh Math.

Misalnya murid di sekolah lain sudah bisa menghitung 1-100 di SVP baru 1-10.

Ini contoh yang simple aja. Di SD SMP pasti lebih beda lagi gapnya. Itu karena sekolah begini lebih mengajarkan konsep terlebih dahulu dibanding loncat materi yang jauh2 tapi basicnya belum mateng. Jadi mereka beneran harus paham 5 itu sebanyak apa sih.. 5 sama 3 itu banyakan mana misalnya.

Tapi dengan cara belajar seperti ini, kabarnya nilai UN Matematika SD sebagian besar banyak yang dapat nilai 100 tanpa bimbel sama sekali. Kalau sekolah 6thn goalsnya adalah nilai, maka target tadi terpenuhi. Memang tidak 100% murid dapat nilai 100 tapi the chances are there. Gak jauh2 banget juga lah gapnya karena sekolah kan pasti aware siapa yang dirasa perlu dapat perhatian lebih.

Lalu yang jadi concern orang tua juga, nggak ada buku pelajaran.

Buat sebagian orangtua ini hal yang penting. Karena dulu kita sekolah dengan cara belajar dari buku pelajaran, mengerjakan PR dari buku itu dan dicek oleh orang tuanya masing2. Sehingga mereka juga merasa perlu bisa dengan mudah mereview hari ini anak mereka belajar apa.

Di sekolah IB hal seperti ini susah. Karena buku gak ada, PR gak setiap hari. Buku catatan sih ada tapi kalau iya anaknya menulis. Kalau nggak, orang tua harus sering2 tanya guru kelasnya kan hari itu belajar apa di sekolah.

Sebagian orang tua merasa hal ini penting, sebagian lagi merasa bisa tahu dari anak, sebagian lagi merasa nanti juga bisa lihat hasilnya pada saat mid semester, atau rapotan. Jadi kembali lagi ini juga tergantung masing2 orang tua lebih ke tipe seperti apa.

Aku dulu terbiasa mengerjakan PR sendiri, gak ada kontrol, gak dicek benar/salah, gak ditungguin belajar. Jadi so far aku merasa akan baik2 aja dengan sistem IB ini. Cuma belum tahu prakteknya nanti yaa.. Ini baru penilaian dari perasaan πŸ™‚

Sistem penilaian

alau kurikulum lain memberikan nilai dari tugas, pr, quiz dan ujian, IB yang gak wajib melakukan itu semua tentu jadi gak punya patokan wajib.

Jadi mereka gak menilai dari itu semua tapi dari proses belajar. Dari saat diskusi di kelas, anak mengeluarkan gagasan aja itu udah ada nilainya. Jadi keseluruhan proses belajar setiap hari selama setahun itu semua dinilai. Susah yaa jadi gurunya πŸ™‚ Jadi orientasi mereka bukan ke hasil akhir aja tapi juga ke proses belajar itu sendiri..

Dibawah ini contoh tema atau unit of inquiry yang dipelajari di sekolah. Tiap semester temanya ganti. Contoh tema besarnya seperti gambar kedua.

Anelka belum SD tapi aku dapat info ini dari beberapa kali datang dan ngobrol dengan pihak sekolah dan beberapa orang. Sehingga yang kupaparkan adalah bukan berdasar pengalaman aku sendiri yaa..

Kebetulan hari ini ada open house internal di sekolah. Jadi aku dapat informasi tambahan juga. Untuk external, open house sekolah victory plus ada tanggal 16 September 2017 ini yaa.. Bisa datang dan sekalian tanya2..

Tentang ijazah. Diakui nggak?

iknas mewajibkan untuk tetap ikut UN. Sehingga sekolah seperti ini memiliki 2 ijazah. Dari IB dan dari Diknas.

Maka dari itu di SVP tetap ada UN untuk tingkat 6 SD, 3 SMP, 3 SMA.

Mereka kabarnya sih bisa catch up sama soal ujian UN. Kedodoran biasanya di UN Bahasa Indonesia.

Khusus untuk SMA, program IB itu namanya DP untuk kelas 2-3SMA. Nah ini nanti kelasnya dibagi 2. Kelas DP atau UN. Yang kelas UN lebih gencar belajar UNnya, kelas DP lebih konsentrasi untuk ujian DP tetapi tetap wajib ikut UN. Jadi UNnya usaha sendiri terserah bagaimana caranya.

Biasanya yang ikut kelas DP yang sudah pasti ingin melanjutkan kuliah ke luar negri. Jadi tetap diakui dan bisa yaa masuk PTN negri juga.. Bahkan karena terbiasa research dan presentasi serta bikin essay katanya anak IB gak mengalami kesusahan saat di bangku kuliah. Sudah terbiasa katanya.

Umm info apalagi yaaa sepertinya sudah terlalu panjang :))

tw kalau aku bisa memilih, aku pengen sekolah yang cara belajar dan kredibilitasnya seperti SVP, networkingnya seperti Sekolah Cikal, filosofinya seperti Global Sevilla yang mengaplikasikan mindfulness. Nah loh πŸ˜‚

Serius suka ngiri banget liat anak2 Cikal yang experiencenya banyak2.. Kemarin aku nonton road to asian games di monas eh anak Cikal malah ngisi acaranya dong di atas panggung πŸ˜… Belum lagi mereka ke gedung MPR/DPR dan duduk di sana, ke KPK dll.. Aku gak tau sih nanti SVP akan kemana dan ngapain aja. Tapi kalo liat instagramnya Cikal tuh 😍😍 Selalu di hatiku deh pokoknya sejak Anelka sekolah di sana tahun 2013 udah jatuh cinta.

Nah kalau udah ngelantur gini berarti saatnya diakhiri…

Terimakasih yang sudah baca dan semoga berguna yaaa meredam kegaluan. Semoga anak2 Indonesia semakin bahagia dan bersinar dengan pendidikan yang lebih berkualitas. Semoga cara belajar macam2 begini gak cuma bisa dinikmati sebagian orang aja tapi semoga nanti standardnya bagus dan merata semuaaa.. Meski entah berapa puluh tahun lagi but there’s always hope.

Sekali lagi perspektif ini adalah ikhtiarku sebagai orangtua untuk mengerti dan mencari tau sekolah yang sekiranya cocok untuk anak2ku dan sejalan dengan visiku dalam mendidik mereka. Nggak harus sependapat dengan aku, karena keberagaman yang akan membuat kita semakin kaya πŸ™‚Β 

Advertisements

5 thoughts on “Memilih sekolah anak – Part 3, perbedaan kurikulum IB vs Cambridge”

  1. aaaakkkk makasi banget kakkk infonya, seminggu ini aku lagi giat ngunjungin open house sekolah2, udh sempet ke svp dan kinderfield, kl binus baru liat sekolahnya aja..tulisannya lumayan bikin nambah pengetahuan ttg macam2 kurikulum sekolah πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s