My story, sekolah

Memilih Sekolah – part 2, cerita masa kini

Aku udah cerita tentang kehidupan sekolah aku yaa sebelumnya di postingan ini.

Terus aku jadi apa sekarang? Gak jadi apa2 karena memang aku gak punya cita2 apa2.. Bukan karena sistem sekolahnya tapi emang karena akunya sendiri. Aku gak pernah membayangkan dan gak mendesign akan seperti apa hidupku kelak. I just want to be happy.

Dengan segala drama dan kepelikan yang aku alami sepanjang hidup, kalo ditanya mau jadi apa, aku selalu jawab aku pengen bahagia.

I know happiness is not a goal. But you’d never imagine what i’ve been through the whole time. Jadi semasa kecil, abg labil yang gak bisa mikir panjang2, yang aku pikirkan pertama kali cuma aku pengen bahagia. Mungkin versi aku waktu itu, terlepas dari drama πŸ™‚ Ini yang agak aku gak suka dengan who i become now, gak jadi orang dengan motivasi tinggi.

Selepas kuliah, aku kerja di 3 perusahaan sebelum akhirnya memutuskan resign kira2 sebulan sebelum menikah.

Gak tau juga kenapa segampang itu memutuskan resign, mungkin karena memang gak ada yang kukejar dalam karier.

And i am, now.

I’m living the life i chose.

Segala sesuatunya berjalan baik2 saja, gak ada drama dan aku punya banyak pilihan mau melakukan apa. Mas Anvid saksi betapa nggak bisa diemnya aku. Bikin bisnis ini bikin bisnis itu, cari tau ini itu kesana kemari. Tapi gak punya skill management yang baik bikin semua berantakan setiap aku punya bayi baru πŸ˜‚ Balik lagi mungkin juga masalah priority. Mungkin ya aku lebih milih konsen ke anakku juga aja. Kadang aku pengen ngelakuin sesuatu tapi gak tega ninggal anak2.. Tunggu aja lah, semua ada waktunya.

Tapi kebiasaan membaca dan haus akan pengetahuan bekal yang penting banget bagi seorang ibu. Semua kubaca, semua kucari tau, datang ke seminar macem2. Karena aku mau tau banyak hal yang berkaitan dengan anak dan aku enjoy dan suka. Banyaaaak sekali pengetahuan baru selama 6thn lebih menjadi ibu terhitung sejak mengandung Anelka. Banyak pandangan yang berubah, banyak pilihan yang tereliminasi. Aku jadi merasa salah ambil jurusan waktu kuliah. Semestinya aku ambil jurusan psikologi aja. Kayaknya lebih berguna untuk hidupku sekarang.

Kadang aku suka bingung atau sedih, kepikiran, kenapa sih pengetahuan basic aja kok ada ibu yang gak tau yaa.. Kok gitu aja mesti nanya yaa.. Kok nanyanya seenaknya yaa gak mau cari tau sendiri dulu.. Kadang kupikir itu kan tanggung jawab atau konsekuensi sebagai orang tua. Tapi ya balik lagi mungkin karena selama sekolah dulu kita gak dididik untuk kritis. Gak terbiasa cari tau kebenaran akan sesuatu, gak terbiasa membaca dari sumber yang berbeda. Terbiasa puas dengan disuguhi 1 sisi cerita dan menghafalkannya sehingga lupa fakta dari sisi lain seperti kejadian G30SPKI πŸ˜‚ Rasa penasaran dan keingintahuan kita dengan mudah disunat dan dipadamkan. Ditambah lagi didikan orang tua jaman dulu yang kebanyakan menyuruh, otoriter, jarang mengajak diskusi untuk membuka wawasan.

Gak ada hubungannya sih. Tapi sepengalaman aku, apalagi jaman twitter awal2 dulu. Ketika dokter2 anak mulai bermain twitter. Aku suka sediihhhh sekali baca2 pertanyaan orang2 terhadap dokter di sana. Nanya tanpa ada refleksi. Mau ikutan tapi gak tau kondisi anaknya sendiri. Semisal, anakku kok suka garuk2 kepala, kenapa ya, dok? πŸ˜… Bingung gak sih..

Aku ambil contoh dari cerita ibu Elly Risman ya ketika di seminar. Jadi jangan marahnya sama aku, soalnya bu Ellynya yang ngomong sendiri πŸ˜†

“Saya punya anak 2,5thn dan 8bln. Kalo saya lagi nyusuin yang 8 bulan, yang 2,5thn saya suruh ngapain ya?”Atau”Di rumah perlu sedia asbak gak sih?”

Silly question kalo kata bu Elly.

Banyak yang lebih parah dari itu sih tapi yaa udah deh bukan itu poinnya.

Sebenernya masalah pengetahuan itu gak ada siapa lebih pinter dari siapa. Tapi siapa yang lebih tau duluan. Tapi ya banyak juga yang gak kepengen cari tau.

Menurutku jadi orang tua sih ya wajib banget tau hal basics seputar anak. Bukan seenaknya nanya sama orang yang bahkan kenal kondisi anaknya aja nggak. Apalagi cuma katanya katanya πŸ˜€

Kan islam juga mengajarkan, iqro! At the first place.

Aku paling sering juga denger pertanyaan “minta rekomen sekolah yang bagus dong”. Buuukk, plisss bagus buat aku, bagus buat ibu gak? Definisi bagus itu apa? Hehe

Dari cerita di atas, aku cuma pengen anak2ku terbiasa research, baca berita, baca jurnal, cari tau secara komprehensif dari berbagai sumber, pengen mereka haus akan pengetahuan. Biar gak mudah dikompori gerombolan saracen 😜 Aku tau itu tugas aku sebagai orang tua yang membiasakan dan membawa mereka ke sana tapi sekolah menurutku megang peran penting juga.

Seperti yang sudah kuceritakan, aku sangat gak suka cara belajar di sekolah2ku dulu. Aku pengen anakku dapet pengalaman belajar yang lebih menarik. Pengen cara belajar yang bener2 bikin mereka ngerti dan paham sedalam2nya.

Sebelum Anelka sekolah, aku sempat baca di twitter twitt seorang ibu yang anaknya sekolah di Cikal Cilandak.

Dia cerita kalau anaknya ada PR matematika dan sedang belajar tentang segitiga. Tau gak PRnya gimana?

Cuma disuruh foto bentuk segitiga di rumah πŸ˜‚ Itu menarik banget buat aku karena aku juga sebenernya gak ngerti tujuan segitiga itu untuk apa selain jadi bentuk atap rumah. Kenapa atapnya mesti begitu juga gak ngerti. Mungkin biar air hujan turun ke bawah gak tergenang? Tapi kan ada teknologi talang air ya πŸ˜…

Anw cara belajar praktek dan konsep2 gitu aku suka. Lebih inget dan berguna.

Memang pilihan aku belum tentu anakku suka sih. Tapi anak kan belum bisa memilih. Harus orangtua yang menentukan sambil dilihat juga kesanggupan anaknya.

Jadi hal2 di atas tadi itu buat aku ikut serta mengambil peran terhadap keputusan aku untuk memilih sekolah anak. Lagi2, pengalaman dan tujuan masing2 orang tua berbeda2..

Sekali lagi, ini adalah cerita aku dari sudut pandang aku yang bertujuan untuk anak2 aku.

Masing2 orangtua berhak memutuskan yang jauh lebih berbeda dari ini. Karena dalam parenting tidak ada benar atau salah. Karena anak, dan kehidupan tidak sekedar hitam dan putih. Bersekolah di sekolah A bukan jaminan anak akan menjadi X. Belajar dengan metode B bukan jaminan anak akan mempunyai pola pikir Y. Tidak ada jaminan seperti itu.

Beribu2 faktor lainnya yang ikut serta menunjang semua hal itu. Jadi silahkan masing2 berpikir menurut visi misi masing2 dengan value yang dijunjung oleh tiap masing2 keluarga πŸ™‚

Advertisements

1 thought on “Memilih Sekolah – part 2, cerita masa kini”

  1. Hallooo.. boleh share buku2 parenting atau buku lain seputar anak, sekolah yg udah kamu baca? Semoga bs menambah referensi buku2 yg aku akan baca juga. πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s