Uncategorized

Pertanyaan yang ‘diharamkan’ saat lebaran

Sudahkah ramai di timeline social mediamu mengenai tata cara bertanya saat silaturahmi nanti? πŸ™‚

Aku jadi kepikiran.

Mungkin memang melelahkan sih dikomentari hal yang kita perjuangkan mati2an tapi belum terlihat membuahkan hasil seperti menguruskan badan (kenapa harus kurus?) atau menumbuhkan janin dalam rahim (well, hmm).

KALAU EMANG BELUM DIKASIH TUHAN TERUS GUE BISA APA??

Hmm.. Tapi kupikir2, apa kita bisa melarang orang untuk tidak bertanya?

Apa kita bisa mengatur orang harus tanya apa?

Apa kita bisa mengontrol orang lain apa yang harus mereka lakukan dan tidak boleh dilakukan?

Sepertinya satu2nya hal yang bisa kita coba kontrol adalah diri kita sendiri. Kewarasan kita, ketenangan batin dan jiwa kita.. Kalau kita merasa content dengan diri kita sendiri, feeling secure, biasanya pertanyaan2 macam itu hanya akan menjadi angin lalu.. So what? This is my own life!

Maybe at that level, we don’t get irritated easily. At that level, we could possibly laughing at our self.

“Hahaha gendutan yaaa? Iya nihh abis aku suka banget makan gimana doongg.. Apalagi di bawah kantor gue ada restoran double hamburger yang enaaaak banget.. Bisa hampir tiap hari gue makan haha cobain deh enak banget.. Gileee burgernya tuh gede banget boookk. Yuk bareng yuk kapan?”

I don’t know, maybe it’s not that easy. Just my two cents. I just thought maybe cuek and being content are the best two options. 

Maybe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s