Posted in Uncategorized

Bye Ramadhan 2016


Usualy, I’m not that into Ramadhan. Entah kenapa semakin dewasa, rasa2nya keterikatan dengan Ramadhan kok semakin jauh.. Beda ketika waktu kecil yang rasanya menunggu2 sekali bulan Ramadhan tiba.

Dengar anak2 keliling membangunkan orang sahur, main bersama2 di tempat lapang sambil menunggu pagi, taraweh dan tadarus bersama2.. Seruuuuu sekali rasanya.. Seru mainnya hehe.. Tapi memang itu cuma ada pada saat Ramadhan jadi rindu sekali suasananya.

Semakin dewasa rasa rindu itu mulai hilang dan berganti dengan rasa yang biasa saja. Mungkin karena gak ada tradisi yang ditunggu seperti ketika waktu kecil. Mungkin..

Sampai tiba di akhir Ramadhan 2016….

Aku baru mikir.

Baru terasa.

Baru kehilangan.

Aku baru sadar bahwa Ramadhan itu bulan yang membawa berjuta kebaikan. 

Amal dan sedekah gak pakai mikir.

Kegiatan sosial dimana2.

Panti asuhan banyak didatangi orang.

Orang miskin banyak dapat santunan.

Banyak yang bagi2 makanan.

Silaturahmi dengan teman2 yang gak pernah kita temui lagi. Mau teman sd, smp, sma, teman ketemu gede dst. Pokoknya cuma ketemu ya pas Ramadhan aja dalam acara buka bersama. 

Belum lagi ibadah yang katanya imbalannya berkali2 lipat pahalanya..

Masya Allah baiknya Tuhaaaaaan 😍

Banyak yang dapat THR sehingga bisa beramal lebih banyak lagiii.. Bisa beli keperluan2 yang biasanya perlu uang sejumlah besar.. Bisa untuk liburaaan dll dll dll

Belum lagi tetangga, teman dekat dan sahabat yang saling mengirimkan hantaran parcel atau sekedar makanan berbuka atau kue2 lebaran.. Aaah aku suka sekali hadiaaaah ❀️❀️


Terimakasih banyak teman2 tersayang for your thoughtful gift.. Terimakasih Tuhan yang sudah menyadarkan aku  bahwa Ramadhan adalah bulan yang begitu indah dan istimewa.

Aku gak menyangka that i miss Ramadhan already 😦

Sekarang aku mengerti mengapa banyak orang menulis “semoga kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan”. Amiin.. Amiin amiin ya rabbal alamiin 😍

Posted in Uncategorized

Pertanyaan yang ‘diharamkan’ saat lebaran

Sudahkah ramai di timeline social mediamu mengenai tata cara bertanya saat silaturahmi nanti? πŸ™‚

Aku jadi kepikiran.

Mungkin memang melelahkan sih dikomentari hal yang kita perjuangkan mati2an tapi belum terlihat membuahkan hasil seperti menguruskan badan (kenapa harus kurus?) atau menumbuhkan janin dalam rahim (well, hmm).

KALAU EMANG BELUM DIKASIH TUHAN TERUS GUE BISA APA??

Hmm.. Tapi kupikir2, apa kita bisa melarang orang untuk tidak bertanya?

Apa kita bisa mengatur orang harus tanya apa?

Apa kita bisa mengontrol orang lain apa yang harus mereka lakukan dan tidak boleh dilakukan?

Sepertinya satu2nya hal yang bisa kita coba kontrol adalah diri kita sendiri. Kewarasan kita, ketenangan batin dan jiwa kita.. Kalau kita merasa content dengan diri kita sendiri, feeling secure, biasanya pertanyaan2 macam itu hanya akan menjadi angin lalu.. So what? This is my own life!

Maybe at that level, we don’t get irritated easily. At that level, we could possibly laughing at our self.

“Hahaha gendutan yaaa? Iya nihh abis aku suka banget makan gimana doongg.. Apalagi di bawah kantor gue ada restoran double hamburger yang enaaaak banget.. Bisa hampir tiap hari gue makan haha cobain deh enak banget.. Gileee burgernya tuh gede banget boookk. Yuk bareng yuk kapan?”

I don’t know, maybe it’s not that easy. Just my two cents. I just thought maybe cuek and being content are the best two options. 

Maybe.

Posted in Uncategorized

Keberagaman


I think i need to post this 😍

Weekend lalu, kami berbuka puasa bersama teman2 dekat Anelka yang sejak bayi sering bermain bersama-sama.

Sering banget main, sering banget ketemuan, sering sekali makan bareng, tapi rasa2nya baru kali ini yang mereka benar2 berdoa bareng2 sebelum makan dan ‘berdiskusi’ singkat.

Buatku, saat kemarin itu mengharukan. Mereka saling menghargai, tidak menyalahkan, tidak merasa cara berdoa yang dilakukannya yang paling benar.

Mereka mengerti bahwa masing2 orang mempunyai cara masing2 untuk berdoa. Yang terpenting sehabis berdoa mereka bisa berlomba memperebutkan juara pertama yang paling dulu habis.

Cara berdoa tidak penting, yang penting semua sudah berdoa sudah cukup. Itu saja.

Kalau saja orang dewasa bisa berfikir sesimple mereka. Lakum dinukum waliyadin πŸ™‚