Uncategorized

Bikin paspor (bayi) tanpa calo?

Hmhhhhhh *menghela nafas dulu* tulisan ini nampaknya akan panjang yaa… Sekalian mengeluarkan emosih haha.. Expect your reading time πŸ™‚
Jadi akhir2 ini, di twitter ramai sekali yang membicarakan mengenai paspor online. Saya sudah dengar layanan online ini beberapa tahun lalu, sewaktu baru dibuka.
Berencana bikin paspor untuk Anelka, karena kami berencana liburan sekaligus merayakan ulang tahun saya di Singapura.
Cerita2 yang beredar, bikin paspor online itu:
1. Mudah. Tinggal upload dokumen kita ke website, masukan hari yang diinginkan untuk datang ke imigrasi, bawa bukti pendaftaran online
2. Ada loketnya sendiri di imigrasi. Sehingga bisa lebih cepat
3. Antriannya lebih sedikit dibanding pendaftaran paspor biasa
4. Cepat. Hanya perlu datang 2x ke imigrasi, kalau paspor biasa kan 3x

Siapa yang nggak tergiur coba, dengan cerita2 seperti ituuuu??
Lalu saya browsing, mencari cerita2 lainnya… Wah, ternyata gak semua mulus seperti yang di atas.. Apply, nggak, apply, anggak, apply, nggak…. Oke, apply!

Ternyata saya tidak beruntung. Terhitung mulai tanggal 6 Febuari 2013 sampai batas waktu yang belum ditentukan, Kantor Imigrasi (Kanim) Jakarta Pusat dan Jakarta Barat sedang menutup layanan pengajuan paspor baru. Mereka sedang uji coba untuk layanan one day service untuk perpanjangan paspor saja. Lalu imbasnya? Kanim2 lain seputar Jakarta dan sekitarnya menjadi membludak melayani permohonan paspor baru.. Hiks..
Keputusan ini tampaknya mendukung Inpres pemberantasan dan pencegahan korupsi. Sehingga Presiden menginstruksikan kepada Kemenkumham agar proses pembuatan paspor bisa lebih cepat agar dapat meminimalisir pungutan liar. Ini nih beritanya

Nah dari pengalaman saya, ternyata pasport online itu:
1. Nggak jelas.
Data kita tidak tersimpan sempurna atau gimana saya kurang ngerti.. Yang pasti, dalam sekali apply, kita bisa apply berkali2 langsung di semua Kanim. Saya daftar di Jaksel dan Jakut. Karena belum memutuskan mau ke Kanim mana

2. Tidak ada penjelasan atau pemberitahuan mengenai kuota.
Baik di website, di akun2 twitter mereka, di cerita blog2 orang. Sehingga saya salah strategi (halah). Saya mengira, ketika melakukan pendaftaran secara online (sampai mendapat bukti pendaftaran yang harus diprint dan di bawa), nama saya sudah terdaftar dong? Ternyata tidak.
Konyolnya, tanda bukti itu hanya sebagai tanda bahwa kita sudah mendaftar online, tetapi kita tetap harus mengantri langsung di Kanim untuk dihitung ulang karena ada kuota terbatas untuk setiap kanim. Aneh bin ajaib.
They made a system, computer based. Kenapa pada saat kita mendaftar untuk tanggal tertentu nggak langsung dibatasi aja coba di website? Misal “maaf, untuk tanggal yang anda pilih kuota telah habis”. Kan lebih jelas, kita bisa cari tanggal lain atau cari Kanim lain.

Saya ngoceh di twitter. Ternyata kata teman saya, menurut orang imigrasi total permohonan paspor baru perhari rata2 1000an sedangkan kesanggupan/ kuota yang disediakan masih di bawah itu. Ditambah 2 Kanim tidak menerima pembuatan paspor baru, kebayangkan ramainya seperti apa?

3. Double dokumen.
Lucu deh. Jadi kita kan diharuskan meng-scan dokumen2 yang dibutuhkan, lalu diupload ke website imigrasi untuk melakukan pendaftaran online. Tapi kita tetap harus menyerahkan copy-nya pada saat mengumpulkan berkas di Kanim. Hehehe…

4. Online ataupun tidak, tetap datang 2x aja kok. Yang pertama proses keseluruhan, yang kedua ambil pasoprt ketika jadi.

*pijit-pijit kening*

Kalau dulu, bikin paspor tanpa calo kan datangnya 3x. Pertama penyerahan dokumen, kedua foto, ketiga ambil paspor. Karena Inpres tadi, maka seluruh proses dari penyerahan dokumen, pembayaran, foto, itu dilakukan 1hari. Sebenernya kasian petugas Imigrasinya sih.. Kerja dari pagi sampai malam, kan.. Teman saya jam 18:30 masih mengantri untuk foto loh…

Lalu nasib saya gimana? Ya gagal hehe… Begini kronologisnya
1. Karena percaya cerita di blog2 orang, saya lebih memilh kanim Jakut yang sepertinya antrian lebih sedikit dibanding yang lain. Berbekal tanda bukti pendaftaran online, saya sampai sana jam 8:30 pagi. Nyasar sana sini sih.. Karena salah alamat, orang sekitar nggak ada yang tahu.. Tapi ternyata di web Kanim Jakut ada google mapsnya.

20130506-152110.jpg
*foto diambil dari sini
Sesampainya di sana ternyata kuota sudah sejak pagi sekali habis. Lho? Padahal kan bukti pendaftaran tulisannya 8-11 pagi..
Lalu saya tanya, “sistemnya bagaimana sih pak?” “kan saya sudah daftar online.”
“online atau tidak sama aja bu.. Tetep mesti antri juga”
“antri dari jam berapa, pak?”
“pagi..”
“paginya jam berapa?”
“Ya pokoknya pagi..”
Gemes nggak siih? Yo wesss, saya pulang lagih…

2. Dua hari kemudian kami berusaha lagi. Kali ini lewat jalur biasa. Habis kata bapak2 petugas, sama saja toh?
Suami saya berangkat dari rumah jam 6. Mengantri nomer untuk pengecekan jumlah kuota. Alhamdulillah, dapet.. Nomer 69 #kode *halah*. Lalu suami saya pulang dulu untuk menjemput saya dan Anelka.. Sampai Kanim lagi sekitar jam 11..
Ketika masuk Kanim, saya agak kaget. Kok sepi.. Dan orang2 udah tenang bawa nomer masing2..
Saya bertanya kepada salah satu petugas di meja paling depan. Entah meja apa itu.. Lalu, saya dibentak!!
“apa apaan ini dateng jam segini??”
“loh, memang seharusnya jam berapa? Kan tadi pagi suami saya sudah ambil nomer”
“ya ambil nomer bukan berarti dateng seenaknya dong!! Nomernya udah nggak ada!!”
Ibu itu mengecek dokumen dalam map saya.
“apaan nih, salah. Fotocopy ktpnya nggak begini.”
….map saya setengah dilempar, dikembalikan ke arah saya…
Iya, di depan orang banyak.
Ibu itu pikir dia siapa yah? Petugas pelayanan umum berlaku seperti itu??
Udah sistemnya serba nggak jelas, pelayanannya busuk.. Kapan mau bebenah ini negara..
Tentu aja saya nggak tahan yaa mengahadapi beliau. Saya langsung kembali ke mobil, meminta suami saya yang mengurus dan berbicara dengan ibu itu…
Singkat cerita, sampai jam 3 sore lebih saya belum bisa menyerahkan dokumen. Masih antri… Ah sudahlah, tinggal saja..

Saya bingung yaa.. Ini kok niat baik mau bikin paspor tanpa calo jadi malah stres sendiri.. Fiuhh.. Saya buka website imigrasi, karena ada jalur pengaduan online. Saya mau cerita mengenai keluhan saya. Namun, entah kenapa gak berhasil! Saya memasukkan kode captcha lebih dari 30x salah terus!! Haha serius saya hitungin.. Ini saya yang bodoh apa gimana sih.. Dan setiap captcha-nya nggak match, semua kolom kembali kosong. So, yes, saya menulis nama dan email saya puluhan kali.. Kalau komplennya yaaa saya copy paste lah tentu saja :p

Saya ngoceh2 lagi deh di twitter.. Macem2 cerita orang yang senasib.. Saya juga mensyen @dennyindrayana, wakemenkumham yang mengurusi masalah paspor dan imigrasi.. Tapi lalu saya bt, habis yang diretweet atau yang dibalas yang memuji beliau saja sih haha…
Baru setelah beberapa hari kemudian, beliau membalas twitt saya.. Ya tapi gak nyambung sih, gak membalas protes saya juga :))

20130513-111954.jpg

Tapi beliau pasti baca semua twitt saya, soalnya yang direply justru yang nggak mensyen beliau sih hehe..

Udah ah.. Capek. saya memutuskan pakai calo saja πŸ™‚

20130513-113146.jpg
*gambar diambil dari sini

Ya mungkin kalau dicoba lagi, bisa berhasil sih.. Tapi mungkin mesti menghabiskan waktu lebih dari 10 jam di imigrasi πŸ˜€ Kasian Anelka ah..

Lalu ada yang mensyen, biaya calo 500rb di Kanim Jaktim plus ngasih nomor hpnya juga.. Haha
Yah beda 240rb sama ngurus sendiri tapi lebih praktis. Terrmasuk murah lah pakai calo biaya segitu.. Saya menyerah. Lain kali aja yaa ngurus paspor sendirinya :):):)

Halo, calo!

Advertisements

3 thoughts on “Bikin paspor (bayi) tanpa calo?”

  1. Hi Mrs.Erdian.. Salam kenal πŸ™‚
    Saya boleh minta contact person calo passportnya nggak?
    Mau bikin passport bayi jg nih..
    Thanks before

    -Rissa-

  2. Untung saya perpanjang paspornya di 2014 jadi sudah ada 3 kantor baru di jaksel. Ada di Pondok Pinang, Lebak Bulus, PAmulang, saya sih mengurusnya di Pondok Pinang. Pengurusannya mudah sekali mbak, gak pake calo, Alhamdulillah. Selain gedungnya yg baru dan nyaman, petugasnya pun ramah2 (beda banget sama yg mbak ceritakan), mungkin suasana yg cozy (sepperti kita masuk ke bank2 swasta) membuat petugasnya jg jadi tdk emosional. Ketika penyerahan dokumen, KK saya beda KTP, petugasnya baik, mempersilahkan saya mengambil KK yg alamatnya sama (saya punya 2 KK), ditunggu olehnya sampai jam 12 (gak pake dimarahin :D), untung rumah saya dekat :D. Utk proses penyerahan dokumen dan fotoo (di hari lainnya), jam 9 selalu sudah selesai (saya datang ke kanim jam 7 spy dapet antrian no kecil), saya jadi sempat ngantor πŸ™‚ . Sebelum apply, saya baca pengalaman orang tlebih dahulu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s