Posted in Uncategorized

Kepada yang lupa..

Kepada yang lupa..

Anak adalah dirinya, bukan dirimu dan bukan diri di masa kecilmu

Anak adalah amanah, ia buah hatimu dan bukan anak buahmu

Anak adalah ujian, dan setiap ujian menuntut waktu, pikiran & perhatian khususmu

Anakmu adalah kekasih, kasihilah mereka dengan sepenuh hati, bukan sesuka hati… Apalagi mengasihi tapi menyakiti hatinya

Anakmu adalah cinta dan cinta itu tidak pernah lelah. Maka belajarlah untuk mencintai kelelahan

Dan bagi engkau yang sedang punya masalah dengan anakmu Sungguh, masalahmu sebenarnya adalah dengan Tuhanmu

Sebab, anakmu hanya ujian … Agar engkau tetap bertahan dan tetap ber-Tuhan

*tulisan tersebut di-copy dari twit @dr_Muzal 26 Juli 2012

Posted in 4 bulan

Nonton bioskop. Ajak Anelka? Oh judge me..

Sebenarnya agak ragu cerita hal ini.
Di luaran sana seperti “aib” rasanya kalau melakukan hal untuk anak yang tidak seharusnya. Dihakimi terus menerus.
Apalagi mengajak anak di bawah umur menonton film yang bukan untuk umurnya. Kalau ketahuan, cercaan berdatangan dari segala penjuru.

Sebagai orangtua memang dituntut harus “sempurna” tanpa cela =) Tapi saya mau mengaku. Saya mengajak anak saya yang berumur 4bulan 21hari menonton The Amazing Spiderman. Judge me? πŸ™‚

—–
Jadi ceritanya udah 6 bulan gak nonton di bioskop. Film terakhir yang ditonton itu Contraband (hasil googling cek film apa saja yang beredar di bulan Januari, saking sudah lupanya) waktu bulan Januari, sebelum melahirkan.

Entah sudah berapa banyak film yang terlewat sejak bulan itu πŸ™‚ Tapi ikhlas kok. Yang biasanya nonton setiap weekend, karena gak memungkinkan, yasudah.

Tapi saya dan suami kangen juga pengen nonton. Dan film “The Amazing Spiderman” kayaknya worth to watch. Suami saya ingin, kalau akhirnya kami menonton lagi, harus film unggulan sekalian.

Ok, pertama mikirin Anelka.

Gimana caranya? Stok ASI gak punya. Habis waktu Anelka kena Common Cold kemarin, dan saya memang gak nyetok ASI puluhan/ratusan botol karena selama ini saya gak ada keperluan pergi2 yang harus meninggalkan Anelka. (Tetap perah dong, untuk optimalkan produksi ASI. Yaudah kenapa sih kalau saya gak mau meraaah? :/ )

Pengen ajak keluarga, entah Adik, Mama, sepupu atau siapa aja yang bisa jagain Anelka di restoran misalnya, selama aku ada di dalam untuk nonton. Tapi kok ya waktunya gak pernah cocok sama mereka.

Gimana ya? Ajak Anelka nonton aja apa?

Oh no..

Sering denger anak kecil nangis di dalam bioskop yang ganggunya minta ampun. Kalau nanti kami yang jadi penganggu itu gimana?

Nonton film yang gak semestinya. “The Amazing Spiderman” film untuk remaja (inisial R stands for Remaja? Cmiiw). Meskipun saya lihat ada beberapa orang tua yang bawa balita dan anak di bawah umur remaja, saya merasa kok gak tepat ya dia diajak nonton film ini. Tapi kan dia belum ngerti? ~Ego

Akhirnya kami memutuskan mengajak Anelka nonton bioskop dengan perkiraan akan di-judge orang:
– Berisik ada bayi nangis
– Suaranya kan kenceng. Gak kasian apa sama telinganya?
– Belum cukup umur. Bukan film untuk anak2
– Gimana sih orangtuanya? Egois amat.

Ternyata?
Surprisingly berhasil!! :’)

Anelka sukses ada di bioskop 2,5jam tanpa nangis, tanpa teriak, tanpa berisik. Dia menyusu, lalu tertidur. Bangun dan menonton filmnya. Celingak celinguk terkagum2 dengan besarnya layar, nonton sambil duduk, atau dia berdiri di kursi.
Ada saat dimana ia mau menyusu, lalu kaget dengar Lizard ditembaki, dia buru2 melepas susunya, menoleh ke arah layar, gak berkedip πŸ™‚

Kalau adegannya seru dia semangat nontonnya. Kalau dialog panjang, kadang agak bosan. Mensiasatinya ya susui, atau kasih mainannya.

Well, ini mungkin gak baik untuk ditiru. Tapi kalau mau mencoba mengajak bayi menonton bioskop karena gak ada yang menjaga atau apa, here’s the tips:

(Disclaimer: Anelka memang gak takut gelap, karena sejak lahir – usia 4bulan menjelang waktu tidur malam sampai pagi, lampu kamar selalu dimatikan)

1. It’s all about timing
Kita paling tau deh kebiasaan anak kita sehari2 kayak gimana.
Untuk Anelka, aku pilih jam 4 sore. Karena biasanya waktu dia untuk main atau tidur sebentar. Kalau nonton di atas jam 18:00 udah nangis2 pasti.

Sampai MOI sekitar jam 2. Terakhir Anelka menyusu ya jam 2 itu. Kami makan siang, lalu putar2 mall. Sengaja bikin Anelka ngantuk dan agak lapar. Dengan harapan, begitu masuk bioskop, dia menyusu dan langsung tidur.

2. Pilih tempat duduk di row A pojok.

Row A, karena menurut saya, kalau bayinya bosan, ingin digendong, kita bisa leluasa menggendongnya sambil berdiri, tanpa ada yang merasa terhalang.
Pojok, karena saya kasih ASI, jadi bisa leluasa menyusui tanpa takut terlihat. Saya gak pakai apron, karena Anelka suka risih, dan saya gak mau ambil resiko ‘berdebat’ sama dia untuk mau ditutupi apron di saat orang2 gak berharap mendengar suara apapun selain dari cerita di layar.

3. Pesan dari Blitzcard/ Mtix

Saya beli dari internet pakai Blitzcard. Ya ini karena takut kursinya kehabisan aja sih. Kalau beli langsung juga gpp.

4. Pakai baju menyusui
Maksudnya, baju yang sepersekian detik gampang di buka tutup untuk nyusuin gitu. Jadi praktis dan kalau butuh cepat, anaknya belum sampai teriak udah bisa nyusu hehe

5. Bawa mainan
Mainan kesayangannya, tapi yang gak berbunyi. Biar gak ganggu orang2. Untuk Anelka, saya bawa Luna. Boneka kain yang memang suka dia gigit dan remas2.
Mainan ini cukup membantu sih kemarin. Kalau Anelka bosan, dia duduk dipangkuan sambil remas2 Luna.

6. Siap2 kabur
Saya dan suami udah siap kabur banget. Kami pasrah kalau di tengah film mesti keluar kalau2 Anelka nangis dan mulai mengganggu. Jadi sudah perkirakan jarak ke tangga, cara keluar, dll.
Tapi, alhamdulillah kemarin gak terjadi hehe

Kemarin saya gak pakaikan Anelka earplug, karena di MOI gak ada mothercare dan toko lain gak ada yang jual. Earmuff, Anelka nyoba aja langsung gemes pengen ngelepas itu barang. Yasudah. Ternyata untuk film kemarin gak terlalu bising juga.

Pakaian, pakai baju lengan panjang dan celana panjang. Takut2 dingin πŸ™‚

Kurang lebih itu yang bisa dibagi dari pengalaman menonton kemarin. Meskipun bukan tindakan terpuji, tapi siapa tau berguna =)

Sekali lagi, terimakasih ya Anelka, for being such a lovely boy. Ibu Ayah sayang sekali sama mas! Xoxo

Posted in ASI

Cerita Asi..

Pertama kali tau tentang Asip (asi perah) waktu bosku dulu rajin banget bawa pompa+cooler bag kemana2.. Canggih deh dia, komit banget untuk mompa di manapun..
Pas hamil, follow deh @ID_AyahAsi dan @Aimi_Asi untuk belajar lebih banyak lagi..

Ternyata menyusui itu gak mudah. Pantesan sampai ada istilah, “menyusuilah dengan keras kepala” hihi.. Dulu gak kebayang gimana mama saya nyusuin saya sampai 2 tahun dan beliau bekerja.. Kan peralatan belum secanggih sekarang hehe..

Awalnya saya heboh euphoria mau jadi ibu baru. Catat ini itu, beli ini itu untuk perlengkapan menyusui. Karena katanya, kita harus rajin “mengosongkan payudara” biar ASInya produksinya semakin banyak.. Lagi semangat2nya, langsung drop karena ASI saya gak bisa keluar kalau pakai breastpump. Kwakkwaaww..
Pasrahlah saya, mesti terima kalau harus perah pakai tangan aja kalau mau nyetok ASI.

Komen orang:
gpp kok perah pake tangan, enak lagi malah dapet banyak. Yaa pegel2 dikit tahan laah, demi anak.. Bayangin deh wajah anaknya, pasti gak terasa kok pegelnya..” hmhh…

Selain itu, kulkas saya pintu1. Hadiah perkawinan yang baru dipakai 4 bulan. Rencana mau diganti beberapa bulan lagi, biar yang memberi senang dulu, hadiahnya dipakai.
Kulkas pintu 1, dengan bunga es, gak friendly sekali untuk menyimpan asi.. Botol tertutup bunga es, daya tahan tidak lama, tempatnya pun sempit karena berbagi dengan daging, dll.

Jujur, hal2 tersebut bikin niat saya nyetok ASI jadi surut.
Yaudahlah gak usah nyetok. Toh gak pergi2 juga kok sayanya.. Susuin aja langsung.
Pernah baca juga, Dee Lestari gak nyetok ASI juga untuk anaknya. Susuin langsung sampai 2 tahun.. Aahh paling tidak saya ada teman. #loh

ASI ini luar biasa sekali cara bekerjanya di tubuh. Yang Maha Hebat, tau betul cara mendesignnya agar sempurna. Stoknya on demand. Semakin sering dikeluarkan, dan dikosongkan, semakin diproduksi lagi dan semakin banyak. Dan sebaliknya. Kalau payudara dibiarkan penuh terus, lama2 otak menyuruh tubuh untuk berhenti memproduksinya. Mengagumkan.

Berlaku kepada saya.

Saya gak pernah nyetok ASI. Yang saya lakukan, kadang memerah ASI di botol kaca, taruh di kulkas bawah, lebih dari seminggu buang. Begitu seterusnya. Lama2 saya merasa, kok payudara saya gak pernah terasa penuh lagi yaa? Kok jarang merembes lagi yaa?

Tapi saya cuek aja…

Sampai, Anelka kena commoncold kemarin. Dia gak mau menyusu langsung. Tapi saya tau dia lapar. Sempat dehidrasi, sampai nangis tapi airmatanya gak keluar 😦 Untungnya di kulkas bawah ada beberapa botol yang masih layak minum. Langsung saya hangatkan dan suapi dia.

Ok, mari perah susu intensif biar Anelka tetap tercukupi cairannya.

Saya perah gak lihat2 jam. Karena mau ngebut nyetok susu, jadi setiap susu bisa diperah ya saya perah. Sedikit juga gpp yang penting itu botol 100ml nambah teruss.
Karena diperah intensif begitu, payudara saya jadi sering penuh. Minta untuk diperah. Yang tadinya gak pernah terasa kencang lagi, jadi kencang, gak pernah nyeri lagi (seperti waktu baru melahirkan), ini tengah malam nyerinya minta ampuuuunnn.. Besar, kencang, sakit kayak mau meledak!

Tapi saya tersenyum πŸ™‚ (kesakitan malah senyum O_o) mengagumi cara kerja produki ASI yang luar biasa keren :”) saya gak nyangka payudara saya yang udah gak pernah keras (bahkan salah satunya sempat keluar sedikit sekali sampai Anelka menolak menyusu karena alirannya gak deras), bisa memproduksi melimpah ruah begitu.. Dan semakin sering diperah semakin banyak lagi keluarnya di sesi perah berikutnya.. Aaaahhh hebaaattt..

Tuhan memang maha hebat deh.. Merencanakan dan menciptakan segala sesuatu dengan sempurna.. Subhanallah..
Semoga edukasi tentang Asi makin banyak dan luas lagi… Biar makin banyak bayi2 mimik Asi.. Bisa kok, bisa πŸ™‚