Posted in Uncategorized

Masalah kepuasan

Kemaren kepikiran tentang ini.

Kayaknya dipikir2 bener juga ajaran Islam untuk jangan pacaran sebelum menikah. Kalau hubungan percintaan kita indah banget saat pacaran dan ketika menikah ternyata gak seindah yang diharapkan, apa gak sulit sekali menjalaninya?

Mau mencoba ikhlas menjalani tapi dalam hati bisa mikir, aaakk gak gitu harusnya.. kan bisa begini lhooo…

Gimana tuh yaah?

Sama kayak berhubungan sex sebelum nikah. Udah tau rasanya, triknya, gayanya, yang seru gimana, tiba2 ketemu suami yang gak seseru itu. Lalu bisa apa? πŸ˜…

Jadi mungkin kadar kepuasan juga relatif. Tergantung kita udah pernah merasa sampai tahap apa. Kalau belum pernah, dikasih level 3 ya udah seneng bangettt. Kalau udah tau enaknya level 7, dikasih level 5 ya gak ada apa2nya rasanya.

More please!

Posted in Uncategorized

Been thinking about the price

Expensive or not? 

Bangun pagi hari ini tiba2 kepikiran hal yang sering diucapin orang2, mahal itu relatif.

Menganggap itu omongan klise semata, tapi kalo dipikir2 ternyata iya juga ya. The way you see the price is not based on how much is cost but is more to hows the cost compare to your money.

Waktu punya uang jajan sebulan 1jt, ada sepatu harga 3jt rasanya mahal gak bisa kebeli. Begitu punya uang jajan 10jt, cukup lah buat beli sepatu seharga 3jt gak pake mikir lagi langsung bayar.

Sebenernya pikiran2 kayak gitu ya yang bahaya. Gak mikir mana prioritas. Do you really need it or not? Perlu atau cuma pengen. Dan di tahap tertentu, udah gak punya rasa lagi terhadap harga suatu barang. Semua rasanya juga bisa dibeli tinggal menjentikkan jari.

Gak pernah merasa cukup.

Itu dia yang paling susah.

Posted in Uncategorized

Your phone, please..

Kayaknya demam gadget udah agak mereda ya sekarang ini dibanding tahun2 lalu. Ketika orang mulai mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

Sekarang sepertinya sudah banyak yang bisa menempatkan diri untuk gak mainan handphone saat berbicara dengan orang lain. Risih banget deh aku kalau liat orang yang masih mainan hp saat lagi kumpul bareng2.. Emang penting banget yaaa? 😜

In my younger age, kelaukanku juga pasti begitu sih.. Saat demam2nya baru muncul social media.. Lucky me, aku sempat dekat dengan beberapa orang yang jauh lebih tua dibanding aku dan bisa kasih tau bahwa that’s not nice. That’s not how you treat people. Seriously mereka ngomong the exact words.

Sejak itu aku sadar untuk harus selalu taruh handphone aku di setiap kencan dan makan malam πŸ˜€ Susahnya sih ketika sedang dekat dengan lebih dari 1 orang. Kalau lagi kencan sama yang 1nya, yang lainnya nyariin dan harus rela gak terima kabar πŸ˜…

Anw my point is.. Please being present at where your are. Scroling instagram atau baca WA group saat lagi ngobrol sama orang tuh nggak banget deh.. Your phone, please….

Posted in Uncategorized

Being my self.

What a tough week i’ve been through. Bolak balik Polsek setiap hari sungguh melelahkan dan menguras energi. Emotionally drained. Kalau sudah saatnya aku akan cerita. Aku harus cerita.

Anelka sampai pulang dengan temannya mungkin 4x semiggu kemarin. Thank you, tante Christine ❀️ Aku hanya sempat anter Anelka, langsung pergi. Sampai rumah larut malam..

Muka gak pernah senyum, negur orang males, mute semua grup yang kupunya, sedikit berhubungan yang kurasa penting aja. Not in a good mood.

But yesterday is different. 

Awalnya aku harus bertemu mereka yang di foto atas karena mereka mau ke rumah untuk bermain bersama Ameesha yang ulang tahun hari ini. Sehari lebih cepat tapi kupikir kenapa tidak?

Demi anak2, demi Ameesha yang akan senang sekali kalau banyak temannya. Demi Anelka yang pasti akan bahagia bertemu teman sedari kecilnya. Mau tidak mau aku harus menyusun mood yang baik. Meski semalaman habis tidak bisa tidur πŸ™ˆ

Rencana ke Bekasi berubah jadi ke Kemang. Surprisingly, aku merasa tenang. Tenang gak harus repot2 dandan. Tenang gak harus repot2 mandi untuk ketemu mereka. Tenang gak perlu basa basi. Tenang gak perlu memaksakan senyum. Aku gak senyum juga mereka gak akan tanya. Dan yang terpenting tenang gak ditanya, “ada apa?”.

Kadang masing2 kita perlu memiliki teman seperti mereka. Teman yang bisa membuat kita merasa content menjadi diri sendiri tanpa berusaha menjadi orang lain. Teman that let you be you.

So thank you, guys!

Posted in My story, Uncategorized

I’m Always Gonna Love You

😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

Baru aja nonton La La Land lalu campur aduk nggak tau mesti review apa. Film musikal is not really my type but La La Land gives something different.

Ok, kembali ke judul.

Masing2 orang pasti punya pengalaman cinta sendiri2. Gak sedikit juga yang punya perasaan kayak judul di atas. Tanpa bermaksud menghianati pasangan yang sekarang tapi kita juga gak bisa merubah hal yang pernah terjadi di masa lalu.

Menurutku kisah percintaan gak harus berakhir dengan pernikahan, makanya aku gak setuju banget sama akhir film AADC2 dan ngerti banget rasanya film La La Land ini 😭

Sakiiiittt dan nggak mudah.

Tapi tentu kita sama2 tahu, tanda cinta paling dalam adalah saat kita saling mendoakan diam-diam.

Hmmm..

I guess, I’m always gonna love you too.

Posted in Uncategorized

Merasa Cukup

Haduh kayaknya aku sebelumnya pernah  bahas ini juga deh, tapi kayaknya ‘cukup’ itu memang rasa yang sulit dicapai πŸ™ˆ

Memangnya gampang merasa cukup punya baju di lemari tanpa beli yang baru?

Memang bisa merasa cukup dengan sepatu hitam yang sudah kita punya 2 di rumah?

Memang mau makan di resto siap saji ketika ada uang lebih bisa makan di restoran mahal?

πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ

Aku sendiri suliiittttt rasanya mengendalikan hal itu. Tapi selama tidak merugikan orang lain, ya itu jadi tanggung jawab kita sendiri kan? Paling hanya uang tabungan yang habis. 

Tapi kalau yang namanya sudah memakai uang orang lain, menggunakan uang yang semestinya bukan haknya, seperti memakai uang arisan atau menyuruh suaminya korupsi di perusahaan itu sudah gak bisa dibiarkan.

Itu penyakit.

Penyakit yang harus kita sendiri dengan kesadaran penuh untuk bisa menahannya.

Sulit banget lah pasti rasanya liat temen2 liburan kok gue nggak. Lihat temen2 makan enak kok gue nggak. Lihat temen beli tas baru kok tas gue udah buluk.

Tapi emang kenapa?

Memangnya dengan kita gak beli tas baru, gak liburan, gak makan mahal kita jadi gak punya teman? Kalo iya ya berarti lingkungan pertemanan kita gak sehat. Boleh diganti aja nggak?

Kita semestinya bisa merasa content dengan apa yang kita jalani dan hidupi. Gak usah terlalu pusing orang mau berfikir apa. Kita mau jadi malaikat pun, pasti ada aja yang nggak suka.

Jadi ya udah. Merasa cukup aja lah dengan kehidupan kita. Kalau gak ada gak usah dipaksa ada. Usaha boleh, asal gak merugikan orang lain.

Mencoba menahan diri tapi dengan uang sendiri jauh lebih berkah kok dibanding gaya2an tapi gak halal pakai uang orang lain. Pembuktian yang paling hebat ya pembuktian ke diri kita sendiri. Bisa nggak kita merasa bahagia dengan apa adanya kita?

Kukira begitu.

Posted in movie, Parenting

Wonderful Life Amalia Prabowo. Film vs Novel.

[[Spoiler alert]]

Beberapa waktu lalu pertama kali liat trailer itu dari sebuah grup whatsapp ibu2.. Dengan isu sesensitif itu, cuplikan film tadi mudah sekali dapat perhatian sehingga beredar dari satu grup ke grup lainnya. Ada yang menangis atau merasa terkoneksi, jleb jleb jleb. Buatku, rasanya biasa saja. Tapi aku tau itu film bagus. Terasa sekali bahwa itu merupakan salah satu film Indonesia yang wajib aku tonton. Tentang anak disleksia, pikirku.

Hari pertama filmnya keluar di bioskop, aku langsung ajak mas Anvid dan Anelka nonton. Sejak awal nonton, aku stresss πŸ˜‚ πŸ˜‚πŸ˜‚

“Hah ibunya kenapa marah2 gitu sih?”
“Ibunya kok jutek amat sih?”
“Kok anaknya gambar2 aja marah?”
“Ini ibu kenapa sih? Ini mah ibunya yang sakit…”

Sssssstttttt…. Mas Anvid protes.

Sori, tapi di film itu aku gak bisa liat perjalanan karakter Uminya kenapa jadi orang yang jutek banget dan mengapa karakter Umi tidak menyenangkan begitu.

Apalagi untuk jabatan setinggi itu masa masih tinggal bersama orangtua yang jelas2 kayaknya memiliki hubungan yang buruk. Orangtua yang kayaknya nyebelin dan otoriter masa sih ibu bos tahan?

Ibu bos yang karakternya sepertinya keras dan ambisius, biasanya gak tinggal bersama orangtua. Biasanya sih..

Adegan demi adegan berlalu, aku bener2 gak bisa relate dan gak ngerasa masuk akal. Ini kejadian tahun berapa sih? Sekarang kan 2016 emang masih aja kecerdasan anak hanya diukur dalam bidang akademis?

Emang kenapa kalo anaknya suka gambar? Dia gak tau bakat anak beda2?
Emang dia gak bisa cari tau atau dateng ke ayah edi gitu misalnya?
Whaaattt ke orang pinter? Ke dukun? Dukun cabul?

Masuk akal nggak sih, seorang perempuan metropolitan, menduduki posisi tertinggi di suatu perusahaan advertising, udah pasti pinter banget. Masa orang sepintar itu percaya dukun, sinshei, orang pinter? Ironis sekali.

Ada adegan di mana mereka makan tapi tidak bayar lalu kabur dan senang sekali ketika berhasil lolos. Ya meskipun akhirnya mereka kirim uang banyak sih ke warteg itu di kemudian hari, tapi adegan itu sempat mendapat protes dari Anelka.

“Kok mereka gak bayar?”

“Kok kabur?”

“Kok gak bayar seneng sih?”

Kemudian tiba di akhir cerita. Bukan surprise atau hal baru yang sulit ditebak. Dan pelajaran yang dapat dipetik juga bukan hal baru lagi. Memang bukankah itu hal yang sering kali dikampanyekan oleh penggiat atau pemerhati anak beberapa tahun terakhir? Bahwa tiap anak memang dilahirkan spesial dan biarlah mereka berkembang sesuai bakatnya sendiri. Sangat tidak asing.

Namun dibalik itu semua, aku penasaran sekali dengan tokoh mbak Amalia. Apa memang seperti digambarkan di film? Perempuan stres, ‘sakit’, jutek serta frustrasi sampai suami dan orang sekitarnya pergi meninggalkan dia karena ia begitu tidak menyenangkan. Masa sih?

Lalu Aqil. Apa iya dia anak yang menyebalkan seperti itu? Tidak bisa bekerjasama dengan baik bersama ibunya.. Berdiri di perahu ringkih yang oleng sekan tidak perduli, keluar dari mobil seenaknya padahal sudah berjanji untuk tinggal, dll jujur saja saya tidak merasa simpatik dengan Aqil di film.

Mengenai disleksia, tidak banyak dibahas. Tidak bisa paham kerepotan yang mereka dialami. Seperti apa, bagaimana, apa salahnya?

Aku tau itu semua hanya film, yang semua hal bisa dengan mudah terjadi di dalamnya. Tapi entah kenapa, banyak hal di film itu yang bertentangan dengan logikaku. Tahun 2016, seorang ceo perempuan handal dari dunia periklanan nyari pengobatan disleksia ke dukun dan orang pinter, oh come on. Gak logis sama sekali menurut aku πŸ™ˆ

Seharian mikirin filmnya sambil baca review2 dari orang2 yang sudah lebih dulu diundang premiernya.. Browsing tentang mbak Amalia sampai akhirnya, hari itu juga aku ke Gramedia untuk beli bukunya.

Surprise surprise, i looveeee the book!

Beda banget sih menurutku sama di film. Dari buku lebih jelas semuanya. Dan bapak, bapak tidak terlihat seperti orang tua angkuh yang menengok saja tidak bisa seperti di film πŸ™ˆ Kupikir si bapak stroke. Lalu suudzonku sirna ketika tau mereka bercerai bukan karena mbak Amalia pemarah lantas banyak yang tidak tahan seperti dugaanku, melainkan karena permasalahan agama. Dari buku itu juga aku tahu bahwa menggambar adalah salah satu terapi Aqil. Menggambarnya juga tidak langsung organik yang mengagumkan begitu namun melalui pattern. Jadi memang mbak Amalia juga yang mengarahkan bukan serta merta Aqil menggambar lantas Uminya marah2.. Bu, what’s wrong with you?

Banyak yang protes soal pemilihan font dan layout buku Wonderful Life. Buatku nggak masalah. Seorang CEO dari industri kreatif sudah pasti ingin menampilkan sesuatu yang beda. Sesuatu yang tidak biasa. Sekaligus ingin menunjukkan pada dunia, betapa semarak dunia Aqil.

img_2293img_2294img_2295img_2296img_2297img_2298
Baca 173 halaman dalam waktu 2,5jam saja. Ringan namun penting. Perjalanan hidup yang lebih mirip autobiografi singkat tentang kehidupan mbak Amalia bersama anak disleksia. Disleksia juga gak mengambil porsi banyak dalam buku ini karena inti ceritanya sepertinya memang bukan itu.

Aku kagum dan merindiiiingggg sekali ketika Aqil bisa menyelenggarakan pameran yang pertama. Bisa kubayangkan bagaimana harunya hati mereka ketika itu 😍😍😍

Hebat dan ikut bangga.

Setelah baca bukunya, aku menyarankan nonton wawancara mereka di youtube pada acara Sarah Sechan.

Ah ya Tuhan, aku langsung jatuh cinta pada sosok Aqil. Cerdas, berani dan berbinar2. Aku sih jarang lihat ya anak seusia dia diwawancara di tv bisa bicara lantang dan tenang seperti dia. Mbak Amalia pasti ikut berperan paling banyak terhadap perkembangan karakter Aqil. Saya selalu percaya, pada orang hebat pasti terdapat orangtua yang canggih. Mereka satu lagi bukti.

Sayang sekali filmnya hanya bertahan 1minggu di bioskop. Semoga edukasinya tetap berlanjut. Dyslexic: hidden disability.

Terimakasih telah berbagi cerita, Mbak Amalia.